Showing posts with label The though. Show all posts
Showing posts with label The though. Show all posts
21.11.15
When The Alarm Goes On!
Sepulang kerja. Jam 10 malam. Buka kulkas. Ada es krim magnum.
IT'S A WAR!!
Jangan, pi! Udah malem!
Kan bukan karbohidraaat!
Tapi es krim, woy! Manis!
Tapi kaan magnum mini doang!
Tutup kulkasnyah, cepetan!
Bentar, ngadem..
Alesan!
Dibilangin cuman ngadem!
Kemudian sayah udah lagi sibuk nyari tempat sampah untuk buang bungkus es krim. I lost in my own war. Tapi itu bukan bagian terburuknya. Setelah makan, sayah akan merasa bersalah. Post-war dialogue is always the worst.
Nyesel kan, lu?
Bangeet! Gimana, dong?
Auk! Capek gua..
Rasa bersalah dan menyesal bukan hal yang asing buat sayah, meski konteksnya bukan melulu tentang makan. Hehehe.
Sebagai makhluk yang punya roller coaster mood, sepertinya sayah sering khilaf. Entah diperkataan, perbuatan, atau bahkan sekedar pikiran yang belum disampaikan. Lately, sayah kurang aware sama hal itu.
Kalau kata Nouman Ali Khan, not letting our mood affect the way we treat people is a forgotten sunnah.
Iyah, sayah lupa sama sunnah yang satu itu. Berusaha mengesampingkan suasana hati dan tetap berkata dan berbuat baik kepada orang lain. Sayah lupa. Dan sayah merasa bersalah. Does apologizing enough?
Iyah, minta maaf ituh baik. Mohon ampun pada Allah itu baik.
Tapi ternyata merasa bersalah pun baik.
Masa?
Dalam salah satu khutbahnya, Nouman Ali Khan juga sempat cerita soal rasa bersalah. Dia bilang, guilt is a gift from Allah warning you that what you are doing is violating your soul.
Rasa bersalah itu bisa jadi peringatan dari Allah lewat hati kecil kita, bahwa Hey, seharusnya kamu nggak seperti itu! Seperti alarm kecil di belakang mobil yang berbunyi lebih cepat saat mobil hampir menabrak sesuatu. Alarm kecil yang menjaga kita lebih berhati-hati dan tidak sakit hati.
Guilt is a gift! Iyes, itu adalah berkah, hadiah, dari Allah. Bayangkan kalau Allah membiarkan sayah tanpa peringatan? Semua perbuatan buruk saya lakukan tanpa merasa bersalah. Ibaratnya alarm mobil tadi, bagian belakang mobil sudah penyok tertabrak berkali-kali, dan masih terus ditabrakin lagih.
Lalu, kenapa alarm itu berbunyi?
Karena mendekati sesuatu yang berbahaya.
Bahayanya lisan sayah menyakiti orang lain. Bahayanya perbuatan sayah menzalimi orang lain. Dan bahayanya pikiran buruk sayah terhadap orang lain.
Atuh sayah musti gimana biar gak mendekati hal yang berbahaya lagi?
Mungkin.
Salah satunya adalah belajar sabar. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, Aku akan bersabar bahkan hingga kesabaran pun lelah melihat kesabaranku.
Sabar, pi..
IT'S A WAR!!
Jangan, pi! Udah malem!
Kan bukan karbohidraaat!
Tapi es krim, woy! Manis!
Tapi kaan magnum mini doang!
Tutup kulkasnyah, cepetan!
Bentar, ngadem..
Alesan!
Dibilangin cuman ngadem!
Kemudian sayah udah lagi sibuk nyari tempat sampah untuk buang bungkus es krim. I lost in my own war. Tapi itu bukan bagian terburuknya. Setelah makan, sayah akan merasa bersalah. Post-war dialogue is always the worst.
Nyesel kan, lu?
Bangeet! Gimana, dong?
Auk! Capek gua..
| Begitulah pesan Hulkbuster untuk sayah. |
Rasa bersalah dan menyesal bukan hal yang asing buat sayah, meski konteksnya bukan melulu tentang makan. Hehehe.
Sebagai makhluk yang punya roller coaster mood, sepertinya sayah sering khilaf. Entah diperkataan, perbuatan, atau bahkan sekedar pikiran yang belum disampaikan. Lately, sayah kurang aware sama hal itu.
Kalau kata Nouman Ali Khan, not letting our mood affect the way we treat people is a forgotten sunnah.
Iyah, sayah lupa sama sunnah yang satu itu. Berusaha mengesampingkan suasana hati dan tetap berkata dan berbuat baik kepada orang lain. Sayah lupa. Dan sayah merasa bersalah. Does apologizing enough?
Iyah, minta maaf ituh baik. Mohon ampun pada Allah itu baik.
Tapi ternyata merasa bersalah pun baik.
Masa?
Dalam salah satu khutbahnya, Nouman Ali Khan juga sempat cerita soal rasa bersalah. Dia bilang, guilt is a gift from Allah warning you that what you are doing is violating your soul.
Rasa bersalah itu bisa jadi peringatan dari Allah lewat hati kecil kita, bahwa Hey, seharusnya kamu nggak seperti itu! Seperti alarm kecil di belakang mobil yang berbunyi lebih cepat saat mobil hampir menabrak sesuatu. Alarm kecil yang menjaga kita lebih berhati-hati dan tidak sakit hati.
Guilt is a gift! Iyes, itu adalah berkah, hadiah, dari Allah. Bayangkan kalau Allah membiarkan sayah tanpa peringatan? Semua perbuatan buruk saya lakukan tanpa merasa bersalah. Ibaratnya alarm mobil tadi, bagian belakang mobil sudah penyok tertabrak berkali-kali, dan masih terus ditabrakin lagih.
Lalu, kenapa alarm itu berbunyi?
Karena mendekati sesuatu yang berbahaya.
Bahayanya lisan sayah menyakiti orang lain. Bahayanya perbuatan sayah menzalimi orang lain. Dan bahayanya pikiran buruk sayah terhadap orang lain.
Atuh sayah musti gimana biar gak mendekati hal yang berbahaya lagi?
Mungkin.
Salah satunya adalah belajar sabar. Seperti nasihat Ali bin Abi Thalib, Aku akan bersabar bahkan hingga kesabaran pun lelah melihat kesabaranku.
Sabar, pi..
Posted by
Mama Mikir
9.10.15
Ada yang Romantis!
Sejak pertama kali bisa menulis, pesen ibu ke saya ada dua, yaitu:
Pertama, tulisannya yang bagus, pi, biar orang mudah bacanya.
Kedua, setiap nulis selalu diawali dengan nulis bismillah, yah nak.
Hasilnya hingga saat ini tulisan tangan saya termasuk kategori mudah-terbaca, sementara tulisan tangan saya untuk huruf Arab termasuk kategori maap-inih-tulisan-apa-gambar-yah. Kecuali untuk kalimat bismillahirrahmanirrahim.
Rutin menuliskan kalimat itu di bagian atas semua tulisan ternyata punya dampak positif dan negatif buat saya. Positifnya, tulisan huruf Arab saya semakin lancar dan terbaca. Negatifnya, saya menganggapnya jadi sekedar kebiasaan dan nyaris melupakan maknanya.
Tapi, yah, kalau Allah ingin mengingatkan hamba-Nya mah ada ajah jalannya.
Seperti hari ini.
Dari kemarin saya sedang mengikuti penjelasan Nouman Ali Khan tentang surat Al-Fathihah, setelah satu jam lebih membahas ayat pertama, beliau akhirnya sampai di ayat ar rahman ar rahim. Dalam bahasa Indonesia diartikan Maha Pengasih Maha Penyayang. Tapi ternyata setelah mendengar penjelasan beliau, kata "kasih" dan "sayang" jadi terdengar kurang lengkap menggambarkan nama Allah arrahman arrahim.
"Kasih" dan "sayang" punya makna yang mirip, bahkan lebih sering dijadikan satu frasa "kasih sayang". Intinya menggambarkan sebuah perasaan suka, cinta, perhatian, dan murah hati. Padahal makna arrahman arrahim jaaauuuuh lebih indah dari itu. Saya akan coba sampaikan kembali apa yang dibahas sama Nouman Ali Khan, yah, mudah-mudahan bisa tetap sampai maknanya.
Kata arrahman dan arrahim sama-sama berakar dari bahasa Arab rahm yang dalam bahasa Inggris diartikan intense love, care, concern, and mercy, mungkin kurang lebih sama dengan kasih sayang. Meski berasal dari kata yang sama, tapi arrahman dan arrahim adalah dua bentuk kata yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda juga.
Bentuk kata arrahman, menjadikan makna katanya memiliki 3 kualitas:
1. Extreme atau melebihi ekspetasi
2. Terjadi saat ini
3. Bersifat sementara (bisa menghilang karena sesuatu hal yang kita lakukan)
Jadi, arrahman bisa digambarkan bahwa, iyah Allah saat ini sedang mencintai kita, cintanya luar biasa banyaknya kepada kita bahkan melebihi ekspetasi. Cintaaa bangeeet pokoknya! Tapi kalau kita melanggar perintah-Nya maka kasih sayang itu bisa menghilang dari kita.
Sekarang kata arrahim. Bentuk katanya punya 2 kualitas:
1. Bersifat permanen
2. Tidak harus sekarang. Atau berlaku jangka panjang
Jadi, arrahim bisa digambarkan begini, Allah itu sayang sama kita. Allah cinta sama kita. Tapi nggak harus sekarang kok ditunjukkinnya, pokoknya seterusnya selamanya Allah sayang dan cinta sama kita, meski sekarang gak keliatan kasih sayangnya.
Lalu kenapa dua kata itu harus beriringan?
Karena Allah mau ngasih tau kita, Ia tidak hanya mencintai kita saat ini saja, tapi selamanya Allah memang Maha Mencintai.
Kenapa arrahman dulu baru arrahim?
Misalnya begini, Ibu saya jago masak. Semua masakannya selalu enak-enak. Lalu suatu hari, saya pulang kerja dan laper banget. Di rumah, si Ibu udah masak sayur asem sama ikan asin. Tapi bukannya ngebolehin saya makan masakannya yang enak itu, ibu malah nanya, "Besok mau makan apa, pi?".
Kan sebel yah. Apalagi buat orang yang kalau laper jadi galak.
Yang saya butuhkan ketika laper adalah makan saat ini juga. Baru nantinya setelah selesai makan, kalau ibu saya tanya, "Besok mau makan apa?", saya baru siap ngerespons dengan tepat, "Hmm..gurame bakar?" -aduh ngiler- gitu misalnya. Intinya, kita nggak akan mikir mau makan apa besok sebelum kita selesai makan hari ini.
Kita akan mulai memikirkan masa depan apabila masa kini kita telah selesai diurus dengan baik. Kurang lebih itu pesannya.
Begitula Allah menyandingkan arrahman arrahim. Seolah-olah Allah mau bilang, "Aku mencintaimu saat ini, dengan luar biasa cinta, dan jangan khawatir, Aku juga Sang Maha Cinta yang akan mencintamu selamanya."
Pantas saja kalimat bismillahirrahmanirrahim selalu harus diucapkan di awal setiap kegiatan kita. Supaya kita ingat bahwa saat ini Allah mengurus kita dengan penuh cinta, dan Allah pula yang akan mengurus masa depan kita karena Ia mencintai kita. Lantas mau bersedih karena apa lagi?
Tiba-tiba kata arrahman arrahim jadi terdengar begitu romantis buat saya. Bukan sekedar bagian dari rutinitas yang ditulis, kata yang diucap, atau bacaan wajib dalam sholat, tapi sebuah ungkapan cinta yang luar biasa dari Tuhan untuk hamba-Nya.
Allah romantis banget, yah? :)
Pertama, tulisannya yang bagus, pi, biar orang mudah bacanya.
Kedua, setiap nulis selalu diawali dengan nulis bismillah, yah nak.
Hasilnya hingga saat ini tulisan tangan saya termasuk kategori mudah-terbaca, sementara tulisan tangan saya untuk huruf Arab termasuk kategori maap-inih-tulisan-apa-gambar-yah. Kecuali untuk kalimat bismillahirrahmanirrahim.
Rutin menuliskan kalimat itu di bagian atas semua tulisan ternyata punya dampak positif dan negatif buat saya. Positifnya, tulisan huruf Arab saya semakin lancar dan terbaca. Negatifnya, saya menganggapnya jadi sekedar kebiasaan dan nyaris melupakan maknanya.
| Yaah..gak bagus-bagus amat, sih, tapi kebaca, kan? hehe.. |
Tapi, yah, kalau Allah ingin mengingatkan hamba-Nya mah ada ajah jalannya.
Seperti hari ini.
Dari kemarin saya sedang mengikuti penjelasan Nouman Ali Khan tentang surat Al-Fathihah, setelah satu jam lebih membahas ayat pertama, beliau akhirnya sampai di ayat ar rahman ar rahim. Dalam bahasa Indonesia diartikan Maha Pengasih Maha Penyayang. Tapi ternyata setelah mendengar penjelasan beliau, kata "kasih" dan "sayang" jadi terdengar kurang lengkap menggambarkan nama Allah arrahman arrahim.
"Kasih" dan "sayang" punya makna yang mirip, bahkan lebih sering dijadikan satu frasa "kasih sayang". Intinya menggambarkan sebuah perasaan suka, cinta, perhatian, dan murah hati. Padahal makna arrahman arrahim jaaauuuuh lebih indah dari itu. Saya akan coba sampaikan kembali apa yang dibahas sama Nouman Ali Khan, yah, mudah-mudahan bisa tetap sampai maknanya.
Kata arrahman dan arrahim sama-sama berakar dari bahasa Arab rahm yang dalam bahasa Inggris diartikan intense love, care, concern, and mercy, mungkin kurang lebih sama dengan kasih sayang. Meski berasal dari kata yang sama, tapi arrahman dan arrahim adalah dua bentuk kata yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda juga.
Bentuk kata arrahman, menjadikan makna katanya memiliki 3 kualitas:
1. Extreme atau melebihi ekspetasi
2. Terjadi saat ini
3. Bersifat sementara (bisa menghilang karena sesuatu hal yang kita lakukan)
Jadi, arrahman bisa digambarkan bahwa, iyah Allah saat ini sedang mencintai kita, cintanya luar biasa banyaknya kepada kita bahkan melebihi ekspetasi. Cintaaa bangeeet pokoknya! Tapi kalau kita melanggar perintah-Nya maka kasih sayang itu bisa menghilang dari kita.
Sekarang kata arrahim. Bentuk katanya punya 2 kualitas:
1. Bersifat permanen
2. Tidak harus sekarang. Atau berlaku jangka panjang
Jadi, arrahim bisa digambarkan begini, Allah itu sayang sama kita. Allah cinta sama kita. Tapi nggak harus sekarang kok ditunjukkinnya, pokoknya seterusnya selamanya Allah sayang dan cinta sama kita, meski sekarang gak keliatan kasih sayangnya.
Lalu kenapa dua kata itu harus beriringan?
Karena Allah mau ngasih tau kita, Ia tidak hanya mencintai kita saat ini saja, tapi selamanya Allah memang Maha Mencintai.
Kenapa arrahman dulu baru arrahim?
Misalnya begini, Ibu saya jago masak. Semua masakannya selalu enak-enak. Lalu suatu hari, saya pulang kerja dan laper banget. Di rumah, si Ibu udah masak sayur asem sama ikan asin. Tapi bukannya ngebolehin saya makan masakannya yang enak itu, ibu malah nanya, "Besok mau makan apa, pi?".
Kan sebel yah. Apalagi buat orang yang kalau laper jadi galak.
Yang saya butuhkan ketika laper adalah makan saat ini juga. Baru nantinya setelah selesai makan, kalau ibu saya tanya, "Besok mau makan apa?", saya baru siap ngerespons dengan tepat, "Hmm..gurame bakar?" -aduh ngiler- gitu misalnya. Intinya, kita nggak akan mikir mau makan apa besok sebelum kita selesai makan hari ini.
Kita akan mulai memikirkan masa depan apabila masa kini kita telah selesai diurus dengan baik. Kurang lebih itu pesannya.
Begitula Allah menyandingkan arrahman arrahim. Seolah-olah Allah mau bilang, "Aku mencintaimu saat ini, dengan luar biasa cinta, dan jangan khawatir, Aku juga Sang Maha Cinta yang akan mencintamu selamanya."
Pantas saja kalimat bismillahirrahmanirrahim selalu harus diucapkan di awal setiap kegiatan kita. Supaya kita ingat bahwa saat ini Allah mengurus kita dengan penuh cinta, dan Allah pula yang akan mengurus masa depan kita karena Ia mencintai kita. Lantas mau bersedih karena apa lagi?
Tiba-tiba kata arrahman arrahim jadi terdengar begitu romantis buat saya. Bukan sekedar bagian dari rutinitas yang ditulis, kata yang diucap, atau bacaan wajib dalam sholat, tapi sebuah ungkapan cinta yang luar biasa dari Tuhan untuk hamba-Nya.
Allah romantis banget, yah? :)
Posted by
Mama Mikir
6.10.15
Berkaca Lewat Cerita
Gak ada yang namanya "kebetulan" kan, yah?
Malem ini ada seorang teman yang cerita soal masalahnya, dia butuh pendapat dan masukan, sukur-sukur sayah bisa bantu mikirin solusi. Untung masalahnya bukan tentang pengaruh harga dollar terhadap keseharian karyawan wanita di Jakarta. Justru lebih rumit dari ituh. Tapi saya gak akan membahas masalah itu di sini. Selain karena ituh mengumbar aib orang lain, juga karena gak akan ada sutradara yang tertarik bikin FTV berdasarkan kisah temen saya ituh kok.
Intinya, selama 30 menit kemudian temen saya mulai cerita panjang lebar via chat di whatsapp. Saya sesekali menimpali dengan komentar singkat seperti, terus? oh gitu? hehe. Tapi semakin dibaca, cerita temen saya tadi terlihat semakin real. Saya seperti sedang jadi tokoh juga di cerita itu. Dan akhirnya saya bener-bener berkomentar dalam hati, Hey! Inih masalah yang gw hadapin juga!
Ini seperti berkendara di jalanan yang sama dengan banyak orang. Kita melihat motor atau mobil di depan, kanan, atau kiri kita, kemudian berkomentar,
Ah, motor di depan itu ban-nya kurang angin!
Mobil yang itu pintu belakangnya kurang rapet tuh!
Lah, itu ibu-ibu belok ke kiri tapi malah nyalain lampu sein ke kanan?!
Padahal, mungkin ban motor kita pun kurang angin, lampu sein lupa dimatikan, atau helm kebalik. Tapi kita nggak ngeh semua hal itu sedang terjadi juga di diri kita.
Hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, kok. Saya pernah lupa menaikkan standar motor saat nyetir. Nggak lama kemudian saya liat seorang bapak yang lupa menaikkan standar motornya, saya buru-buru ngecek standar motor saya juga. Dan ternyata bener. Akhirnya saya naikkan standar motor dan klakson si bapak-bapak tadi untuk ngingetin hal yang sama.
Jadi, mungkin yah, mungkiiin, Allah memang ingin saya sadar bahwa saya sedang dalam masalah. Langkah awal keluar dari masalah adalah sadar sepenuhnya bahwa -well- kita sedang dalam masalah! Dan uniknya, Allah mengingatkan saya melalui cerita temen saya tadi.
Temen saya mungkin enggak tau bahwa saya sedang mengalami masalah yang sama. Tapi kan Allah tau. Apa susahnya bagi Allah mempertemukan kami dalam cerita?
Setelah temen saya tuntas cerita, saya jadi bisa melihat masalah dengan lebih logis.
Sama seperti kasus melihat ban motor orang lain yang kempes, tentunya dengan mudah kita akan langsung berpikir bahwa solusinya adalah pergi ke tukang tambal ban. Tapi coba kalau ban motor kita yang kempes. Kita sibuk berprasangka dulu, inih beneran kempes atau perasaan gw doang yah? kayaknya sih kempes. Coba diteken dulu deh. Seginih kempes gak yah?. Dan malah menunda menjalankan solusinya.
Akhirnya saya coba kasih masukan untuk temen saya tadi, kasih pendapat, dan bahkan sempat berusaha memberi solusi juga. Tapi yang temen saya gak tau adalah saya sedang bicara dengan diri saya sendiri. This is my problem too! But now I see it in a different light. A brighter one. (Duh tetiba banyak ninja sedang ngupas bawang merah di kamar sayah. Tissu mana? Tissuu?)
Pada bagian akhir, temen saya mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati mendengarkan ceritanya. Saya pun mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati membantu saya berkaca lewat ceritanya.
Mungkin ini salah satu penafsiran yang tepat untuk salah satu kalam Allah, bahwa saat kita berbuat baik untuk saudara kita, sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri. Inshaa Allah.
Malem ini ada seorang teman yang cerita soal masalahnya, dia butuh pendapat dan masukan, sukur-sukur sayah bisa bantu mikirin solusi. Untung masalahnya bukan tentang pengaruh harga dollar terhadap keseharian karyawan wanita di Jakarta. Justru lebih rumit dari ituh. Tapi saya gak akan membahas masalah itu di sini. Selain karena ituh mengumbar aib orang lain, juga karena gak akan ada sutradara yang tertarik bikin FTV berdasarkan kisah temen saya ituh kok.
Intinya, selama 30 menit kemudian temen saya mulai cerita panjang lebar via chat di whatsapp. Saya sesekali menimpali dengan komentar singkat seperti, terus? oh gitu? hehe. Tapi semakin dibaca, cerita temen saya tadi terlihat semakin real. Saya seperti sedang jadi tokoh juga di cerita itu. Dan akhirnya saya bener-bener berkomentar dalam hati, Hey! Inih masalah yang gw hadapin juga!
Ini seperti berkendara di jalanan yang sama dengan banyak orang. Kita melihat motor atau mobil di depan, kanan, atau kiri kita, kemudian berkomentar,
Ah, motor di depan itu ban-nya kurang angin!
Mobil yang itu pintu belakangnya kurang rapet tuh!
Lah, itu ibu-ibu belok ke kiri tapi malah nyalain lampu sein ke kanan?!
Padahal, mungkin ban motor kita pun kurang angin, lampu sein lupa dimatikan, atau helm kebalik. Tapi kita nggak ngeh semua hal itu sedang terjadi juga di diri kita.
| Mungkin memang lebih mudah melihat masalah orang lain lebih dulu dibanding masalah kita sendiri, yah? |
Hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, kok. Saya pernah lupa menaikkan standar motor saat nyetir. Nggak lama kemudian saya liat seorang bapak yang lupa menaikkan standar motornya, saya buru-buru ngecek standar motor saya juga. Dan ternyata bener. Akhirnya saya naikkan standar motor dan klakson si bapak-bapak tadi untuk ngingetin hal yang sama.
Jadi, mungkin yah, mungkiiin, Allah memang ingin saya sadar bahwa saya sedang dalam masalah. Langkah awal keluar dari masalah adalah sadar sepenuhnya bahwa -well- kita sedang dalam masalah! Dan uniknya, Allah mengingatkan saya melalui cerita temen saya tadi.
Temen saya mungkin enggak tau bahwa saya sedang mengalami masalah yang sama. Tapi kan Allah tau. Apa susahnya bagi Allah mempertemukan kami dalam cerita?
Setelah temen saya tuntas cerita, saya jadi bisa melihat masalah dengan lebih logis.
Sama seperti kasus melihat ban motor orang lain yang kempes, tentunya dengan mudah kita akan langsung berpikir bahwa solusinya adalah pergi ke tukang tambal ban. Tapi coba kalau ban motor kita yang kempes. Kita sibuk berprasangka dulu, inih beneran kempes atau perasaan gw doang yah? kayaknya sih kempes. Coba diteken dulu deh. Seginih kempes gak yah?. Dan malah menunda menjalankan solusinya.
Akhirnya saya coba kasih masukan untuk temen saya tadi, kasih pendapat, dan bahkan sempat berusaha memberi solusi juga. Tapi yang temen saya gak tau adalah saya sedang bicara dengan diri saya sendiri. This is my problem too! But now I see it in a different light. A brighter one. (Duh tetiba banyak ninja sedang ngupas bawang merah di kamar sayah. Tissu mana? Tissuu?)
Pada bagian akhir, temen saya mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati mendengarkan ceritanya. Saya pun mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati membantu saya berkaca lewat ceritanya.
Mungkin ini salah satu penafsiran yang tepat untuk salah satu kalam Allah, bahwa saat kita berbuat baik untuk saudara kita, sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri. Inshaa Allah.
Posted by
Mama Mikir
30.9.15
Belajar (Tambah) Yakin
Tadi ada seorang teman yang bilang begini sama saya, "Yakin sama gue, gak bakal harga dollar turun! Kecuali kita jadi negara maju.."
Pernyataan yang penuh percaya diri. Saya nyengir ajah mendengarnya. Ada dua alasan kenapa saya enggak membantah pernyataan tadi atau pun berusaha memberikan pendapat saya. Yang pertama karena temen saya itu sudah sibuk menyebutkan berbagai teori kenapa-dollar-mahal-dan-gak-turun-turun. Kedua karena saya lagi ngunyah permen, jadi susah buat ngomong. #sepik
Udah jelas sih yah, bahwa saya bukan orang yang ngerti banget soal perekonomian negara. Satu-satunya kata "ekonomi" yang paling akrab saya temui adalah pada tiket kereta api atau sabun colek. Jadi saya gak akan bercerita tentang perekonomian negara. Fiuuh..
It's about attitude.
Attitude alias sikap macam apa yang saya maksud?
Itu lho. Sikap yakin atas sesuatu yang bahkan di luar kuasa kita.
Hey! Nasib kita 1 menit berikutnya ajah masih nggak yakin kayak gimana, atuh kumaha kita mau sombong yakin harga dollar gak akan turun?
Saya bukan mau bilang bahwa, "Udah nggak usah belajar, enggak usah menganalisis, enggak usah cari tau, toh semua kejadian atas ijin Allah!". Bukaaaan..
Justru manusia memang harus banyak belajar, banyak mengamati dan menganalisis, membuat teori dan kesimpulan. Kan ayat pertama yang disampaikan Allah kepada Rasulullah pun adalah perintah untuk membaca.
Tapii..kadang kita memang jadi salah fokus.
Misalnya seperti ini, tiba-tiba saya dapat kiriman hadiah. Pas dibuka, ternyata isinya adalah coklat yang banyaaak sekali *duh. ngelap iler dulu*. Pertanyaan pertama saya tentunya, "Wah, siapa nih yang kirim coklat?". Dilanjut pertanyaan kedua, "Kenapa kok saya dikirimin coklat?" Ituh reaksi normal ketika menerima hadiah.
Masa iya saya terima hadiah, kemudian pas tau isinya coklat, lantas langsung saya makan, terus pamer ke orang lain bahwa coklat milik saya ini enak banget dan bagus untuk kesehatan karena mengandung vitamin E yang bikin awet muda. Tanpa peduli siapa yang mengirimkan dan untuk apa dikirimkan pada saya, apa mungkin saya berani melakukan hal seperti itu? Kan enggak.
Pengetahuan itu seperti hadiah dari Allah. Ia akan berikan kepada yang Ia kehendaki dan akan Ia ambil apabila Ia menghendaki.
Jadi ketika mendapat sebuah pengetahuan baru, seperti mendapat hadiah,
"Wah, siapa nih yang kasih saya pengetahuan?" Allah.
"Kenapa kok saya dikasih pengetahuan ini?" Untuk mengingat Allah.
Lantas apa hubungannya dengan orang yang yakin berkata harga dollar tidak akan turun? Menurut saya, mungkin, beliau lupa sama dua pertanyaan di atas. Lupa bahwa ilmunya adalah hadiah dari Allah dan malah sibuk menikmati si hadiah dan menggunakannya semau hati. Alias salah fokus.
Coba bayangin kalau seandainya seorang Ahli Ekonomi, ketika sedang menganalisis perekonomian negara ia selalu ingat bahwa ilmunya itu dari Allah, dan Allah ingin ilmu itu menjadi manfaat untuk banyak orang.
Mungkin dia akan bicara seperti ini, "Menurut analisis saya, inshaa Allah harga dollar akan terus naik, karena bla..blaa.. Tapi meski begitu, rakyat Indonesia tidak perlu khawatir, karena yang menjamin hidup kita hanya Allah. Mari kita tutup dengan mendoakan para pemimpin bangsa agar selalu dibimbing Allah dalam mengambil keputusan. Aamiin. Jangan lupa isi tromol masjid, yah."
Kalau semua pembelajar yakin bahwa ilmu yang dititipkan padanya adalah hadiah dari Allah untuk terus mengingatnya, maka inshaa Allah tidak akan ada seorang pembelajar pun yang berani berkata, "Saya yakin manusia merupakan evolusi dari kera!", "Saya yakin besok cuaca akan cerah!", atau "Saya yakin Inter Milan pasti juara Liga Champion!".
Karena sejatinya seorang pembelajar, pada saat ia mempelajari, menganalisis, membuat kesimpulan, dan menyusun hipotesis, seluruhnya adalah proses mengingat Allah, bukan melupakan-Nya. Jadi semakin banyak ia belajar, bukan semakin yakin bahwa dirinya berilmu, tapi semakin yakin pada Yang Maha Berilmu.
Pernyataan yang penuh percaya diri. Saya nyengir ajah mendengarnya. Ada dua alasan kenapa saya enggak membantah pernyataan tadi atau pun berusaha memberikan pendapat saya. Yang pertama karena temen saya itu sudah sibuk menyebutkan berbagai teori kenapa-dollar-mahal-dan-gak-turun-turun. Kedua karena saya lagi ngunyah permen, jadi susah buat ngomong. #sepik
Udah jelas sih yah, bahwa saya bukan orang yang ngerti banget soal perekonomian negara. Satu-satunya kata "ekonomi" yang paling akrab saya temui adalah pada tiket kereta api atau sabun colek. Jadi saya gak akan bercerita tentang perekonomian negara. Fiuuh..
It's about attitude.
Attitude alias sikap macam apa yang saya maksud?
Itu lho. Sikap yakin atas sesuatu yang bahkan di luar kuasa kita.
Hey! Nasib kita 1 menit berikutnya ajah masih nggak yakin kayak gimana, atuh kumaha kita mau sombong yakin harga dollar gak akan turun?
Alhamdulillaaaah!
Saya bukan mau bilang bahwa, "Udah nggak usah belajar, enggak usah menganalisis, enggak usah cari tau, toh semua kejadian atas ijin Allah!". Bukaaaan..
Justru manusia memang harus banyak belajar, banyak mengamati dan menganalisis, membuat teori dan kesimpulan. Kan ayat pertama yang disampaikan Allah kepada Rasulullah pun adalah perintah untuk membaca.
Tapii..kadang kita memang jadi salah fokus.
Misalnya seperti ini, tiba-tiba saya dapat kiriman hadiah. Pas dibuka, ternyata isinya adalah coklat yang banyaaak sekali *duh. ngelap iler dulu*. Pertanyaan pertama saya tentunya, "Wah, siapa nih yang kirim coklat?". Dilanjut pertanyaan kedua, "Kenapa kok saya dikirimin coklat?" Ituh reaksi normal ketika menerima hadiah.
Masa iya saya terima hadiah, kemudian pas tau isinya coklat, lantas langsung saya makan, terus pamer ke orang lain bahwa coklat milik saya ini enak banget dan bagus untuk kesehatan karena mengandung vitamin E yang bikin awet muda. Tanpa peduli siapa yang mengirimkan dan untuk apa dikirimkan pada saya, apa mungkin saya berani melakukan hal seperti itu? Kan enggak.
Pengetahuan itu seperti hadiah dari Allah. Ia akan berikan kepada yang Ia kehendaki dan akan Ia ambil apabila Ia menghendaki.
Jadi ketika mendapat sebuah pengetahuan baru, seperti mendapat hadiah,
"Wah, siapa nih yang kasih saya pengetahuan?" Allah.
"Kenapa kok saya dikasih pengetahuan ini?" Untuk mengingat Allah.
Lantas apa hubungannya dengan orang yang yakin berkata harga dollar tidak akan turun? Menurut saya, mungkin, beliau lupa sama dua pertanyaan di atas. Lupa bahwa ilmunya adalah hadiah dari Allah dan malah sibuk menikmati si hadiah dan menggunakannya semau hati. Alias salah fokus.
Coba bayangin kalau seandainya seorang Ahli Ekonomi, ketika sedang menganalisis perekonomian negara ia selalu ingat bahwa ilmunya itu dari Allah, dan Allah ingin ilmu itu menjadi manfaat untuk banyak orang.
Mungkin dia akan bicara seperti ini, "Menurut analisis saya, inshaa Allah harga dollar akan terus naik, karena bla..blaa.. Tapi meski begitu, rakyat Indonesia tidak perlu khawatir, karena yang menjamin hidup kita hanya Allah. Mari kita tutup dengan mendoakan para pemimpin bangsa agar selalu dibimbing Allah dalam mengambil keputusan. Aamiin. Jangan lupa isi tromol masjid, yah."
Kalau semua pembelajar yakin bahwa ilmu yang dititipkan padanya adalah hadiah dari Allah untuk terus mengingatnya, maka inshaa Allah tidak akan ada seorang pembelajar pun yang berani berkata, "Saya yakin manusia merupakan evolusi dari kera!", "Saya yakin besok cuaca akan cerah!", atau "Saya yakin Inter Milan pasti juara Liga Champion!".
Karena sejatinya seorang pembelajar, pada saat ia mempelajari, menganalisis, membuat kesimpulan, dan menyusun hipotesis, seluruhnya adalah proses mengingat Allah, bukan melupakan-Nya. Jadi semakin banyak ia belajar, bukan semakin yakin bahwa dirinya berilmu, tapi semakin yakin pada Yang Maha Berilmu.
Posted by
Mama Mikir
26.9.15
Bukan Dicari tapi Dijemput.
Lagi demen-demennya nonton Masterchef Australia, nih.
Karena?
Well, those foods look ENAK BANGET!
Si Bapak sampai heran dan berulang kali nanya hal yang sama setiap kali saya sedang nonton acara masak tersebut. Suatu kali, setelah cukup lama duduk dan mencoba melihat sisi menarik dari acara favorit saya, si Bapak nyerah.
Bapak: Apa serunya, sih, pi?
Pipi: Seruuu, paak! Itu mereka harus masak yang unik dan enak, terus waktunya terbatas.
Bapak: Ah, biasa aja.
Pipi: Tuh, tuh, pak, keliatannya enak banget, tapi ternyata kata jurinya kurang enak.
Ibu: Pipi! Mending kamu sini ngaduk santen di kompor! Nonton acara masak tapi kagak bantuin masak!
Yah, intinyah, kata bapak, acara favorit saya gak ada bagus-bagusnya.
Dan kata ibu..yah..begituhlah, hahaha!
Setelah ngaduk santen, ternyata remote TV udah lagi dalam kuasa si Bapak. Ketahuilah, acara favorit si Bapak adalah semacam Animal Planet, Wild Life, atau apapun yang melibatkan adegan binatang sedang hidup normal gitu. Apa serunya coba?
Berhubung tadi si Bapak udah mencoba memahami sisi menarik acara favorit saya, jadi sekarang gantian. Akhirnya saya duduk di sebelah bapak, nonton ikan salmon berenang sambil tetap ngecek acara selanjutnya apa dan kapan acara ini habis.
Ikan salmon yang sudah dewasa dan telah berenang ke hilir harus kembali ke hulu untuk bereproduksi di sana. Nah, perjalanan hilir ke hulu inih lumayan sulit, bahkan sampai harus melompati air terjun kecil. Lompatnya dari bawah ke atas gitu lagih, bukan dari atas ke bawah. Kalu dari atas ke bawah saya juga bisa, tapi jangan deh, khawatir airnyah tumpah semuah. Back to the Salmon, pas lagi nonton ikan salmon melompat dari bawah air terjun kecil ke bagian atas air terjun ini lah saya melihat hal yang amazing!
Di atas air terjun, ada beberapa ekor beruang. Mereka predator bagi ikan salmon. Sebagian dari mereka sibuk menyibak-nyibak air sungai untuk menangkap ikan salmon, tapi sebagian lainnya hanya cukup membuka mulut maka ikan salmon yang melompat dari bagian bawah air terjun akan langsung masuk ke mulut mereka! Keren!
Coba bayangin kalau kita lapar dan tinggal buka mulut, terus makanan berterbangan masuk. Ayam goreng, cokelat, kue keju, sate ayam..eh sate ayam jangan deh, serem juga sih kalu sate ayam terbang masuk ke mulut. Ituh tusukannya kan agak-agak mengancam kesehatan tenggorokan, yah. Intinyaaah, that flying food is cool!
Adegan beruang makan salmon itu lah yang membuat saya berubah pikiran tentang acara favoritnya si Bapak. Karena saya jadi inget konsep "menjemput rezeki" yang sering dibahas Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya di radio.
Beberapa orang akan bilang "mencari rezeki" tapi nyatanya rezeki-lah yang menemukan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjemputnya dengan cara yang baik dan niat yang benar. Jadi akan lebih tepat kalau disebut "menjemput rezeki" dibandingkan dengan "mencari rezeki".
Saat mencari sesuatu, misalnya mencari penghapus yang hilang waktu jaman sekolah. Kita akan sibuk keliling mengecek kotak pensil teman, kolong meja, pot taneman bu guru, keranjang gorengan di kantin, bahkan nanya sama temen-temen, Eh liat pengapus gw gak? Sementara si penghapus mah diem ajah menunggu kita temukan di kantong baju sendiri.
Orang yang sedang mencari akan lebih banyak bergerak dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada hal yang dicarinya. Rezeki pun sama, dia lah yang menemukan kita!
Tapi, kan, saya kerja jauh, 30 km dari rumah, musti kena macet, kerjaannya banyak, terus nunggu tanggal 25 dulu! Usaha saya lebih banyak dari usaha rezeki menghampiri saya, makanya saya mencari si rezeki.
Pertama, rezeki bukan melulu berarti uang.
Kedua, kata siapa usaha kita mendekat pada rezeki lebih besar dari usaha rezeki mendekat pada kita?
Saat haus di rumah?
Kita cukup berjalan dari kamar ke dapur. Mengambil gelas. Pencet dispenser. Minum.
Saat haus di jalan?
Cukup mampir di warung. Keluar uang 1000 rupiah. Tusuk sedotan. Minum.
Saat haus di kolam renang?
Tenang, sayah gak doyan minum aer kolam.
Coba kita bandingkan dengan perjalanan si air minum untuk sampai ke perut kita. Entah dari mata air pegunungan mana, sudah mengalir berapa jauh, kemudian dijernihkan oleh orang yang kita pun enggak kenal, dikemas oleh orang yang sama juga kita enggak kenal, dibawa oleh supir-supir yang kita nggak berusaha pengen kenal juga, terus sampai ke rak jualan Ind*mart, kita beli, kita minum.
Perjalanan rezeki kita begitu jaaauuuuh kalau dibandingkan perjalanan dan usaha kita untuk menjemputnya. Maka yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan usaha dan meluruskan niat. Bukan sibuk "mencari rezeki" sampai melupakan Yang Memberi Rezeki. Yakinlah, rezeki akan menemukanmu :)
Mirip dengan si beruang tadi, ada yang sibuk menyiduk ikan salmon dari air dan ada juga yang hanya membuka mulut lalu ikan salmon akan beterbangan masuk ke mulut mereka. Mungkin beruang hanya perlu berjalan sedikit ke air, tapi ikan salmon yang jadi makanan beruang sudah berenang jauuuh sekali untuk berakhir di perut si beruang. Tidak meleset satu ekor pun kalau memang takdirnyah menjadi makanan beruang.
Apapun usaha terbaik yang kita lakukan, Allah tidak akan meleset mengantarkan rezeki kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki. Inshaa Allah..
Yaah, jadinya saya nonton acara itu sampai habis sama si Bapak.
Ternyata, lebih keren acara favoritnya si Bapak, euy! :p
ps:
Eh, jodoh juga rezeki, kan yah? Hehehe..
Karena?
Well, those foods look ENAK BANGET!
Si Bapak sampai heran dan berulang kali nanya hal yang sama setiap kali saya sedang nonton acara masak tersebut. Suatu kali, setelah cukup lama duduk dan mencoba melihat sisi menarik dari acara favorit saya, si Bapak nyerah.
Bapak: Apa serunya, sih, pi?
Pipi: Seruuu, paak! Itu mereka harus masak yang unik dan enak, terus waktunya terbatas.
Bapak: Ah, biasa aja.
Pipi: Tuh, tuh, pak, keliatannya enak banget, tapi ternyata kata jurinya kurang enak.
Ibu: Pipi! Mending kamu sini ngaduk santen di kompor! Nonton acara masak tapi kagak bantuin masak!
Yah, intinyah, kata bapak, acara favorit saya gak ada bagus-bagusnya.
Dan kata ibu..yah..begituhlah, hahaha!
Setelah ngaduk santen, ternyata remote TV udah lagi dalam kuasa si Bapak. Ketahuilah, acara favorit si Bapak adalah semacam Animal Planet, Wild Life, atau apapun yang melibatkan adegan binatang sedang hidup normal gitu. Apa serunya coba?
Berhubung tadi si Bapak udah mencoba memahami sisi menarik acara favorit saya, jadi sekarang gantian. Akhirnya saya duduk di sebelah bapak, nonton ikan salmon berenang sambil tetap ngecek acara selanjutnya apa dan kapan acara ini habis.
Ikan salmon yang sudah dewasa dan telah berenang ke hilir harus kembali ke hulu untuk bereproduksi di sana. Nah, perjalanan hilir ke hulu inih lumayan sulit, bahkan sampai harus melompati air terjun kecil. Lompatnya dari bawah ke atas gitu lagih, bukan dari atas ke bawah. Kalu dari atas ke bawah saya juga bisa, tapi jangan deh, khawatir airnyah tumpah semuah. Back to the Salmon, pas lagi nonton ikan salmon melompat dari bawah air terjun kecil ke bagian atas air terjun ini lah saya melihat hal yang amazing!
Di atas air terjun, ada beberapa ekor beruang. Mereka predator bagi ikan salmon. Sebagian dari mereka sibuk menyibak-nyibak air sungai untuk menangkap ikan salmon, tapi sebagian lainnya hanya cukup membuka mulut maka ikan salmon yang melompat dari bagian bawah air terjun akan langsung masuk ke mulut mereka! Keren!
Kayak kata iklan sosis, "Tinggal lep!"
Coba bayangin kalau kita lapar dan tinggal buka mulut, terus makanan berterbangan masuk. Ayam goreng, cokelat, kue keju, sate ayam..eh sate ayam jangan deh, serem juga sih kalu sate ayam terbang masuk ke mulut. Ituh tusukannya kan agak-agak mengancam kesehatan tenggorokan, yah. Intinyaaah, that flying food is cool!
Adegan beruang makan salmon itu lah yang membuat saya berubah pikiran tentang acara favoritnya si Bapak. Karena saya jadi inget konsep "menjemput rezeki" yang sering dibahas Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya di radio.
Beberapa orang akan bilang "mencari rezeki" tapi nyatanya rezeki-lah yang menemukan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjemputnya dengan cara yang baik dan niat yang benar. Jadi akan lebih tepat kalau disebut "menjemput rezeki" dibandingkan dengan "mencari rezeki".
Saat mencari sesuatu, misalnya mencari penghapus yang hilang waktu jaman sekolah. Kita akan sibuk keliling mengecek kotak pensil teman, kolong meja, pot taneman bu guru, keranjang gorengan di kantin, bahkan nanya sama temen-temen, Eh liat pengapus gw gak? Sementara si penghapus mah diem ajah menunggu kita temukan di kantong baju sendiri.
Orang yang sedang mencari akan lebih banyak bergerak dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada hal yang dicarinya. Rezeki pun sama, dia lah yang menemukan kita!
Tapi, kan, saya kerja jauh, 30 km dari rumah, musti kena macet, kerjaannya banyak, terus nunggu tanggal 25 dulu! Usaha saya lebih banyak dari usaha rezeki menghampiri saya, makanya saya mencari si rezeki.
Pertama, rezeki bukan melulu berarti uang.
Kedua, kata siapa usaha kita mendekat pada rezeki lebih besar dari usaha rezeki mendekat pada kita?
Saat haus di rumah?
Kita cukup berjalan dari kamar ke dapur. Mengambil gelas. Pencet dispenser. Minum.
Saat haus di jalan?
Cukup mampir di warung. Keluar uang 1000 rupiah. Tusuk sedotan. Minum.
Saat haus di kolam renang?
Tenang, sayah gak doyan minum aer kolam.
Coba kita bandingkan dengan perjalanan si air minum untuk sampai ke perut kita. Entah dari mata air pegunungan mana, sudah mengalir berapa jauh, kemudian dijernihkan oleh orang yang kita pun enggak kenal, dikemas oleh orang yang sama juga kita enggak kenal, dibawa oleh supir-supir yang kita nggak berusaha pengen kenal juga, terus sampai ke rak jualan Ind*mart, kita beli, kita minum.
Perjalanan rezeki kita begitu jaaauuuuh kalau dibandingkan perjalanan dan usaha kita untuk menjemputnya. Maka yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan usaha dan meluruskan niat. Bukan sibuk "mencari rezeki" sampai melupakan Yang Memberi Rezeki. Yakinlah, rezeki akan menemukanmu :)
Mirip dengan si beruang tadi, ada yang sibuk menyiduk ikan salmon dari air dan ada juga yang hanya membuka mulut lalu ikan salmon akan beterbangan masuk ke mulut mereka. Mungkin beruang hanya perlu berjalan sedikit ke air, tapi ikan salmon yang jadi makanan beruang sudah berenang jauuuh sekali untuk berakhir di perut si beruang. Tidak meleset satu ekor pun kalau memang takdirnyah menjadi makanan beruang.
Apapun usaha terbaik yang kita lakukan, Allah tidak akan meleset mengantarkan rezeki kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki. Inshaa Allah..
Yaah, jadinya saya nonton acara itu sampai habis sama si Bapak.
Ternyata, lebih keren acara favoritnya si Bapak, euy! :p
ps:
Eh, jodoh juga rezeki, kan yah? Hehehe..
Posted by
Mama Mikir
31.1.12
A Falling Candy
Pernah gak, lagi buka bungkus permen, siap di makan, eh pas sampe depan mulut permennya jatoh ke tanah dan sukses ngegelinding ke got.
Menurut Ibu saya itu perumpamaan paling cocok untuk hal yang baru aja terjadi dalam hidup saya.
Dari sebelum lulus saya udah diminta masukin CV dan surat lamaran kerja ke sekolah almamater saya. Entah jadi laboran atau pun guru fisika. Tapi saya bilang tunggu saya lulus, karena satu semester kemarin saya bener-bener kerja keras kuliah-seminar-sidang sepaket. Akhirnya setelah lulus dan puas jalan-jalan, saya siap masuk dunia kerja. Jadi guru, boi!!
Alhamdulillah saya diterima. Dapet jadwal ngajar 7 kelas, itu menurut jadwal yang saya terima hari Jumat, tiga hari sebelum saya officially ngajar di sekolah. Murid-murid privat saya yang emang anak sekolahan itu juga pada sms liat nama saya di jadwal pelajaran fisika. Ini yang dianalogikan ibu saya sebagai bungkus permen yang udah kebuka.
Lalu kapan si permen jatoh?
Besoknya, kawan.
Sabtu saya dikabarin, bahwa ada pemerataan guru dari dinas. Jadi sekolah yang kekurangan guru akan dikasih dari sekolah yang kelebihan guru. Sekolah tempat saya ngajar itu kebagian 2 orang guru kiriman. So? They don't need me anymore. Saya gak jadi ngajar di sana.
Ibu saya yang paling sedih gitu kayaknya, soalnya udah seneng anaknya yang paling cakep ini (ada yang mau protes? kirim surat sini kalu berani! :p) bisa ngajar di sekolahan bagus dan deket pula. Ibu takut saya sedih, berkali-kali beliau nepuk-nepuk bahu saya sambil bilang, "Nggak apa-apa yah nak, mungkin bukan rezeki pipi,". Padahal saya tau beliau yang sedih :(
Jadi saya cuma senyum ke ibu dan bilang, "Bu, pipi nggak sedih sama sekali. Kalu kata Aa Gym yah bu, gajah aja nggak sekolah tapi badannya bisa gede-gede, tetes embun yang jatuh aja punya nasibnya, apalagi pipi yang manusia bu, Alloh gak akan nelantarin pipi cuma gara-gara nggak dapet kerja di satu tempat,"
Duh gimana yah jelasinnya? Saya terlalu yakin bahwa Alloh nggak akan ninggalin saya, nggak akan bikin saya menderita, nggak akan bikin saya kecewa. Orang bilang saya naif dan gak realistis. Justru ini sangat realistis menurut saya.
Sama seperti waktu saya gak lulus SPMB, saya nangis meraung-raung untuk akhirnya bisa bersyukur bahwa saya nggak lulus. Sekarang lain, saya udah tau ilmunya, saya nggak perlu lagi nangis meraung-raung untuk suatu hari nanti bisa bersyukur saya nggak jadi ngajar di sana. Karena Alloh siapin hal yang lebih baik untuk saya. Yakin.
Gak percaya?
Postingan berikutnya pasti akan membuktikannya! Pasti. Yakin.
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
26.9.11
mengejar Toga!
Toga. Wisuda. Lulus.
Sakral banget yah mereka?
Boleh saya bilang, bahwa proses saya "mengejar" toga, adalah salah satu penelitian ilmiah tentang bagaimana Allah menolong saya dengan luar biasa. Kenapa saya bilang ilmiah? Karena hipotesa saya terbukti dengan berbagai pembuktian tak terduga.
Dimulai dari seminar pra skripsi. Di postingan terakhir saya bilang cerita soal gimana saya sempet panik dapet dosen penguji yang terkenal jago pandai menghancurkan impian mahasiswa lulus cepet. Tapi tahukah kalian wahai orang-orang yang beriman? Pas saya maju seminar, Dosen itu baaiiiiiiiiik banget. Sumpah. Orang pada bingung. Saya senyum-senyum. Temen-temen yang menanti saya dibantai tampak kecewa, mirip orang nonton layar tancep kena gerimis.
Paska seminar, lanjut ke ngambil data. Subhanallah yah.. saya mondar-mandir kampus dan sekolahan dan kampus lagi demi rentetan data-data itu. Ngejar dosen (dalam artian sebenernya, melibatkan keringet bercucuran soalnya) dari kampus A ke kampus B, dari depok, rawamangun, sampe ke semanggi demi dapet data soal media saya ataupun demi tanda tangan di KRS dan surat-surat lainnya. Yang saya inget dari masa-masa ini adalah ketika dosen saya telpon dan bilang, "Saya lagi fisioterapi di RS daerah semanggi, bisa ke sini aja?" dan saya langsung bilang bisa padahal nama RSnya aja baru denger sekali ini. But still, ternyata saya bisa ngelewatin itu semua, di saat orang lain rasanya pesimis dan lebih milih ngambil skripsi smester depan, saya optimis dan bersedia berkeringat lebih (momen dmana rasanya mandi lebih pentingd daripada makan).
Perjuangan panjang itu akhirnya sampe di hari saya daftar SIDANG SKRIPSI. Kali ini saya dapet 3 orang penguji. Salah satu di antaranya adalah dosen berinisial S, yang lagi-lagi menurut mahasiswa bimbingannya adalah dosen yang merasa bahwa melihat mahasiswanya keringat dingin merapal doa adalah sama menariknya dengan nonton AADC. Coba yaaaah, ini temen2 kok demen banget nakut2in gw sebelum sidang?? Tapi tenang aja, sebagaimana seminar dulu, saya udah punya resepnya menghadapi hal kayak gini. Nanti terakhir baru saya bahas.
Di hari sidang skripsi, saya naik bis seperti biasa. Udah siap-siap tidur ketika tiba-tiba seseorang naik ke bis dan negor saya. Guess who? Dia dosen yang dulu nguji saya waktu seminar. Beliau langsung duduk manis di sebelah saya, dan terjadilah obrolan yang gak akan saya lupa seumur idup.
Dosen (D): Sidang hari ini kan?
Saya (S): Iya pak
D: Siapa aja pengujinya?
S: Pak S, Pak U, sama Bu V.
D: Pak S keluar kota kemarin sore, saya aja yah yang gantiin
S: beneran pak?? *sumpah suara gw kenceng banget pas ini, pengamen sampe nengok
D: beneran, mana sini skripsi kamu, saya liat dulu
S: *dengan sigap nyerahin skripsi sebelum ni dosen berubah pikiran
D: *baca* hmm..ini benerin dulu jadi nanti pas maju gak salah
Yassaalaaam..saya direvisi duluan di bis!! Jadi pas giliran saya maju, sumpah lancar banget! Alhamdulillah se alhamdulillah-alhamdulillahnya manusia bisa alhamdulillah (apa si?)
Selesai sidang, hadirlah revisi dan acc. Disini saya smpet ketabrak motor di depan rumah pas mau nyebrang -_-'. Dan perlu dicatat yah kawan-kawan, jatoh kepala duluan ternyata bisa menyebabkan benjol dan kerudungan kotor kena tanah.
Saya lagi di jalan dari jogja pas hari terakhir acc. Berdoa dalem hati berjam-jam di jalan, berharap dosen-dosennya baik hati dan langsung ngasih tandatangan. Saya janjian di 3 tempat berbeda sama 5 dosen yang harus tanda tangan. Saya belum mandi dari jogja, jam 6 pagi saya dibantu ade, bapak, dan ibu saya yang ikutan ribet ngeprint dan lain-lain, akhirnya berhasil ke tempat pertama saya janjian sama dosen. Dan yu no wat? Betapa kagetnya sayah ternyata kelima dosen itu ada di sana semua. ADA APA INI? Kalau saya boleh lebay, saya mau nangis sambil sujud sukur, tapi karena nggak boleh lebay, maka saya cuma cengar-cengir bahagia. 1 tempat 5 dosen. Komplit 5 tanda tangan dalam 1 jam. Alhamdulillah 1000x nggak cukup kan?
Dan seterusnya saya beresin pemberkasan skripsi saya, tes TOEFL yang alhamdulillah sekali langsung lulus, dan lain-lain yang berhubungan sama wisuda. Setelah kejar-kejaran yang penuh perjuangan. Akhirnya Toga itu buat saya.
| Yeeey! |
Lulus sendirian dari 36 temen sekelas. IPK 3.51!! Bayangkan cuma dengan 0.01 saya akhirnya cum laude, hahahah. Doesn't matter anymore lah..
Oke, dulu waktu saya gak lulus SPMB saya smpet bilang itu adalah titik balik hidup saya. Bahwa sejak itu hidup saya berubah dan lain-lain. Sekali lagi saya bersyukur gak lulus SPMB, karena dengan begitu Alloh ternyata mau ngajarin saya banyak hal di UNJ. Bukan cuma soal fisika aje boi..
Banyak kejadian yang rasanya semesta bener-bener mendukung niat saya untuk lulus, macemnya dosen yang tiba-tiba jadi baik, atau lagi keluar kota, atau ngumpul di satu tempat dan bersedia dimintai tandatangan dengan mudah. Juga macemnya lancar ujian sidang, nilai A yang menyumbang 0.01 poin lebih untuk saya jadi cum laude, atau sekedar jalanan gak macet ketika saya nyaris telat ketemu dosen.
Saya beruntung?
Bukan, kawan. Sederhana, saya selalu hanya minta Alloh menolong saya.
Kalu saat nyaris telat itu saya cuma ngedumel dalem bis, apa masalah selesai? nggak. Tapi Alloh ringankan langkah saya nyari ojek (yes, dude, usaha!).
Kalu takut dosennya galak? Mau di apa? Bujukin dosennya? Ngedukunin dosennya (amit2 dah)? Noo..sederhana kawan, minta sama pemiliknya. Alloh Maha Pembolak-balik hati, apa sulitnya Dia tiba-tiba membalik hati sang dosen jadi gak demen marah2?
Kalu khawatir saat maju sidang bakal tergagap2 dan lupa, mau apa? Minta sama Alloh, yang jaga ilmu dalam otak qt ini cuma Dia, yang punya pun Dia, apa sulitnya tiba-tiba Dia ambil semua ingatan soal skripsi saat saya lagi sidang?
Intinya, saya yakin, saya nggak akan bisa kalau Alloh nggak tolong saya :)
itu aja.
Dan untuk meyakini hal macem ini hingga ke sumsum tulang terdalam (aiih bahasa gw, sumpah sumsum tulang terdalam itu yg mana yah?), saya diajarkan langsung selama 4 tahun di UNJ.
Soal pinter fisika, mungkin saya bukan yang paling pinter. Tapi soal yakin sama kuasa Alloh, saya paling yakin.
Satu pertempuran telah selesai lagi. Sebagai bangsa saiya yang budiman, saya deklarasikan saya makin kuat. Yaaah..masuk level saiya super lah dengan lulusnya saya dari UNJ ini :)
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
2.5.11
Setengah Isi – Setengah Kosong: Paradigma Hak & Kewajiban
Hak Asasi Manusia menjadi isu yang hangat dibicarakan, terlebih karena pelanggaran-pelanggaran terhadapnya. Sejarah mencatat perkembangan diakuinya hak asasi manusia dimulai dari zaman para filsuf seperti Aristoteles yang kemudian berkembang hingga sampai di Declaration of Human Right yang dikeluarkan oleh PBB. Indonesia sendiri memiliki gambaran umum mengenai hak asasi manusia berdasarkan dasar hukum negara kita.
Di Indonesia secara garis besar disimpulkan, hak-hak asasi manusia itu dapat dibeda-bedakan menjadi : Hak asasi pribadi, hak asasi ekonomi, hak asasi politik, hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan pemerintahan, hak asasi sosial dan kebudayaan serta hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan. Secara konkret untuk pertama kali Hak Asasi Manusia dituangkan dalam Piagam Hak Asasi Manusia sebagai lampiran Ketetapan Permusyawarahan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998.
Padahal jika ingin lebih jauh dipahami, ide hak asasi manusia telah diberikan jauh sebelum Aristoteles lahir. Tepatnya pada zaman Rasulullah masih hidup dan oleh Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana penyampaian yang dilakukan Beliau mengenai hak asasi manusia. Beliau bersabda, “Sesungguhnya darah, harta kekayaan, dan harga diri kalian adalah terhormat, sebagaimana terhormatnya hari kalian ini, di negeri kalian dan di bulan ini.”
Beliau tidak mengatakan bahwa kalian berhak hidup, kalian berhak memiliki kekayaan, dan kalian berhak menjaga harga diri. Beliau justru mengatakan bahwa ketiga hal tersebut adalah terhormat. Hal ini mendatangkan konsekuensi yang berbeda dengan apabila Beliau menyebutkannya sebagai hak. Seperti filosofi gelas setengah isi atau setengah kosong, bukan sekedar bagaimana cara memandangnya, tapi juga bagaimana tindak lanjutnya.
Menyadari bahwa darah kita terhormat, maka sewajarnya kita berkewajiban menjaga sikap, menjaga adab, menjauh dari tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan darah kita tertumpah. Selanjutnya menyadari bahwa kekayaan kita terhormat, maka kita berkewajiban menggunakannya dengan baik untuk keperluan yang baik pula dan menyimpannya dengan baik. Serta menyadari bahwa harga diri kita terhormat, maka kewajiban kita untuk tidak merendahkan diri dengan perbuatan yang kriminil.
Konsep-konsep hak asasi manusia yang ada sekarang sudah pernah dicetuskan Nabi Muhammad SAW hanya saja dalam paradigma yang berbeda. Bukan hak yang ingin ditekankan tapi kewajiban. Konsep yang sama dengan paradigma yang berbeda tentunya akan membawa pada konsekuensi yang berbeda pula.
Misalnya saja dikatakan bahwa, ‘Anda berhak memiliki sesuatu dari orang lain, yang belum anda miliki’. Maka yang timbul adalah usaha untuk mendapatkan sesuatu dengan berbagai cara, berlanjut pada aksi saling rebut, dan akhirnya karena egoisme yang ada sifat rakus pun timbul. Lain halnya jika dikatakan, ‘Anda berkewajiban memberikan sesuatu pada orang lain, yang belum dia miliki’. Kalimat seperti ini justru akan menimbulkan usaha untuk saling memberi pada yang kurang, dan berdampak panjang pada tidak ada lagi yang kekurangan.
Dengan kata ‘hak’ orang berusaha untuk terus menuntut, tapi dengan kata ‘kewajiban’ kita berusaha untuk memberi. Sebagaimana pepatah lama, “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
14.6.09
Mahmoud Ahmadinejad
Temen2 phy biasanya udah tau, kalo phy kagum sama presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
Asal lihat berita ada tulisannya "IRAN" atau "AHMADINEJAD"nya, pasti langsung phy tonton. Atau ada artikel di koran atau internet, pasti langsung phy simpen. Buku2nya pun berjejer di rak buku di kamar, sudah khatam dibaca semuanya.
Dan kalo ditanya, apa yang paling phy kagumin dari sosok pemimpin seperti Ahmadinejad, itu ada dua:
BERPRINSIP & BERANI
Beliau bukan termasuk Pemimpin yang nurut2 saja sama dominasi negara besar seperti Amerika. Bahkan saat beliau mengatakan akan turun menyapu di jalan bersama rakyat, beliau benar2 melakukannya! Dan setiap tindakannya tak lepas dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Dan beliau, sosok pemimpin yang dengan lantang berani mengatakan bahwa "Israel akan dihapus dari peta dunia"...
Dan kenapa tiba2 phy ngebahas ini?
Karena 12 juni lalu, Iran melangsungkan pemilu. Dengan empat calon presiden:
Mahmoud Ahmadinejad (67.07%)
Mir Hossein Mousavi (30.34%)
Mohsen Rezai (1.7%)
Mehdi Karroubi (0.86%)
MENANG TELAK!
itu mungkin ungkapan yang paling tepat untuk kemenangan Ahmadinejad.
Padahal Mir Hossein Mousavi sudah susah payah mengkampanyekan "Akan memperbaiki hubungan dengan AS agak perekonomian Iran selamat". Padahal Ahmadinejad baru saja mengakibatkan aksi walkout dari 30 delegasi negara saat konfrensi anti-rasisme PBB di Jenewa april lalu. Dan bahkan dengan segala tudingan atas Ahmadinejad yang mengisolasi Iran dari Amerika.
Tapi mengapa rakyatnya masih memilih Beliau menjadi pemimpin?
Jawabannya (according to me) :
Karena beliau berprinsip dan berani.
Berani itu bukan berarti tidak punya rasa takut, tapi memilih untuk melakukan hal yang lebih penting sehingga mengesampingkan rasa takut.
Untuk apa takut pada Amerika, Israel, atau negara2 lainnya?
Maka tak segan Ahmadinejad menyuarakan kebenaran.
Itu prinsipnya.
Karena yang "selamat", bukan yang merapat pada yang kuat (baca: Amerika), tapi yang "selamat" adalah yang berpegang teguh pada tali Allah dan merapat pada-Nya.
Hanya Allah Maha Berkehendak
ps:
Semoga Ahmadinejad tetap istiqomah, ya Allah..
Asal lihat berita ada tulisannya "IRAN" atau "AHMADINEJAD"nya, pasti langsung phy tonton. Atau ada artikel di koran atau internet, pasti langsung phy simpen. Buku2nya pun berjejer di rak buku di kamar, sudah khatam dibaca semuanya.
Dan kalo ditanya, apa yang paling phy kagumin dari sosok pemimpin seperti Ahmadinejad, itu ada dua:
BERPRINSIP & BERANI
Beliau bukan termasuk Pemimpin yang nurut2 saja sama dominasi negara besar seperti Amerika. Bahkan saat beliau mengatakan akan turun menyapu di jalan bersama rakyat, beliau benar2 melakukannya! Dan setiap tindakannya tak lepas dari Al-Qur'an dan Sunnah.
Dan beliau, sosok pemimpin yang dengan lantang berani mengatakan bahwa "Israel akan dihapus dari peta dunia"...
Dan kenapa tiba2 phy ngebahas ini?
Karena 12 juni lalu, Iran melangsungkan pemilu. Dengan empat calon presiden:
Mahmoud Ahmadinejad (67.07%)
Mir Hossein Mousavi (30.34%)
Mohsen Rezai (1.7%)
Mehdi Karroubi (0.86%)
MENANG TELAK!
itu mungkin ungkapan yang paling tepat untuk kemenangan Ahmadinejad.
Padahal Mir Hossein Mousavi sudah susah payah mengkampanyekan "Akan memperbaiki hubungan dengan AS agak perekonomian Iran selamat". Padahal Ahmadinejad baru saja mengakibatkan aksi walkout dari 30 delegasi negara saat konfrensi anti-rasisme PBB di Jenewa april lalu. Dan bahkan dengan segala tudingan atas Ahmadinejad yang mengisolasi Iran dari Amerika.
Tapi mengapa rakyatnya masih memilih Beliau menjadi pemimpin?
Jawabannya (according to me) :
Karena beliau berprinsip dan berani.
Berani itu bukan berarti tidak punya rasa takut, tapi memilih untuk melakukan hal yang lebih penting sehingga mengesampingkan rasa takut.
Untuk apa takut pada Amerika, Israel, atau negara2 lainnya?
Maka tak segan Ahmadinejad menyuarakan kebenaran.
Itu prinsipnya.
Karena yang "selamat", bukan yang merapat pada yang kuat (baca: Amerika), tapi yang "selamat" adalah yang berpegang teguh pada tali Allah dan merapat pada-Nya.
Hanya Allah Maha Berkehendak
ps:
Semoga Ahmadinejad tetap istiqomah, ya Allah..
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
2.5.09
Perempuan ini
Menjadi seorang perempuan tidaklah sulit. Tapi menjadi SEPERTI perempuan, itu yang penting.
Karena perempuan bukan hanya tentang gender, tapi ini tentang sikap dan amanah perempuan di dunia. Yang sayangnya, makna perempuan seperti telah tergeser banyak oleh perkembangan zaman.
Perempuan dijadikan sebuah stereotype dengan keseragaman karakter utama,
Yaitu:
- Air mata
- Lemah
- Tampil cantik
Sehingga akan dianggap wajar jika perempuan menangis, tapi menjadi sedikit "memalukan" jika laki-laki yang menangis. Akan dianggap wajar jika perempuan lemah, tapi begitu "mengecewakan" jika seorang laki-laki lemah. Dan perempuan itu -entah kenapa- merasa harus selalu bisa tampil rapih.
Jika hanya itu memaknai perempuan, maka itu seperti memandang bahwa Perempuan adalah Manusia, sementara Laki-laki adalah makhluk lain.
Allah menciptakan manusia sudah dengan bentuk yang paling sempurna untuk menjalankan tugasnya di muka bumi.
Seluruh manusia memiliki kelenjar air mata, maka mereka semua berhak menangis.
Seluruh manusia memiliki otot lurik, maka mereka semua berhak merasa lemah.
Seluruh manusia memiliki tubuh, maka mereka semua berhak tampil rapih.
Entah siapa yang memulai menjadikan sosok perempuan memiliki "karakter umum" seperti itu, namun mereka sungguh keliru. Stereotype macam tadi seperti yang terjadi pada makna seragam anak sekolah zaman sekarang. Gaya berpakaian Dian Sastro di film AADC tiba-tiba menjadi sebuah ikon anak SMA, dan ditiru oleh banyak pelajar.
Kemeja agak pendek. Rok di atas lutut. Kaos kaki panjang. Sepatu warna-warni.
Entah bergeser kemana makna dari sebuah "seragam sekolah".
Begitu juga tentang makna perempuan.
Bukannya saya tidak memihak pada emansipasi, hanya saja menurut saya emansipasi bukan berarti kesetaraan gender. Hak dan Kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak akan pernah sama (untuk beberapa poin).
Perempuan itu adalah sosok yang padanya diamanahkan tugas besar yang menyangkut nasib seluruh umat manusia. Perempuan itu istimewa.
Makanya perempuan pun berhak bersekolah setinggi-tingginya, berhak mengutarakan pendapatnya, berhak hidup merdeka. Namun perlu diingat, meski hak-haknya mirip dengan hak-hak laki-laki, tapi tata caranya berbeda.
Karena perempuan istimewa.
Berhak bersekolah setinggi-tingginya, bukan berarti perempuan lebih baik tidak menikah maupun mengurus rumah tangganya.
Berhak mengutarakan pendapatnya, bukan berarti perempuan harus berteriak-teriak di depan gedung parlemen.
Dan berhak hidup merdeka, bukan berarti perempuan tidak harus taat pada suaminya.
Karena perempuan istimewa.
Jangan menyalahartikan, apalagi menyalahgunakan, keistimewaan yang diberikan Allah pada perempuan. Karena setiap perlakuan istimewa yang ada untuk perempuan, sungguh sebagai sebuah kekuatannya untuk menjalankan amanah besar, yang bahkan berpengaruh bagi seluruh dunia. Percaya?
Kaum feminis mengatakan bahwa menjadi perempuan dalam Islam amatlah susah dan terkekang, lihat saja peraturan dibawah ini:
Tapi coba perhatikan, bahwa Allah tidak mungkin akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Semua aturan itu sebenarnya adalah sebuah keistimewaan, asal kita mau membuka mata dan melihat keistimewaan tersebut:
Lalu memangnya apa "amanah besar yang Allah bebankan pada perempuan" yang bahkan mempengaruhi seluruh dunia?
Ingat lagi bagaimana Nabi Musa dibesarkan di keluarga Fir'aun? Karena ada seorang perempuan mulia bernama Asiyah yang akan merawat dan mendidiknya.
Ingat lagi bagaimana Nabi Isa lahir hanya dari seorang Ibu, Siti Maryam?
Dan ingatlah, bahwa Rasulullah dibesarkan oleh seorang perempuan juga, Halimatusa'diyah.
Sebaik-baik perencana adalah Allah. Dan Allah telah merencanakan sesuatu yang baik untuk setiap perempuan di muka bumi ini.
Maka jangan sia-siakan keistimewaanmu, perempuan..
Karena perempuan bukan hanya tentang gender, tapi ini tentang sikap dan amanah perempuan di dunia. Yang sayangnya, makna perempuan seperti telah tergeser banyak oleh perkembangan zaman.
Perempuan dijadikan sebuah stereotype dengan keseragaman karakter utama,
Yaitu:
- Air mata
- Lemah
- Tampil cantik
Sehingga akan dianggap wajar jika perempuan menangis, tapi menjadi sedikit "memalukan" jika laki-laki yang menangis. Akan dianggap wajar jika perempuan lemah, tapi begitu "mengecewakan" jika seorang laki-laki lemah. Dan perempuan itu -entah kenapa- merasa harus selalu bisa tampil rapih.
Jika hanya itu memaknai perempuan, maka itu seperti memandang bahwa Perempuan adalah Manusia, sementara Laki-laki adalah makhluk lain.
Allah menciptakan manusia sudah dengan bentuk yang paling sempurna untuk menjalankan tugasnya di muka bumi.
Seluruh manusia memiliki kelenjar air mata, maka mereka semua berhak menangis.
Seluruh manusia memiliki otot lurik, maka mereka semua berhak merasa lemah.
Seluruh manusia memiliki tubuh, maka mereka semua berhak tampil rapih.
Entah siapa yang memulai menjadikan sosok perempuan memiliki "karakter umum" seperti itu, namun mereka sungguh keliru. Stereotype macam tadi seperti yang terjadi pada makna seragam anak sekolah zaman sekarang. Gaya berpakaian Dian Sastro di film AADC tiba-tiba menjadi sebuah ikon anak SMA, dan ditiru oleh banyak pelajar.
Kemeja agak pendek. Rok di atas lutut. Kaos kaki panjang. Sepatu warna-warni.
Entah bergeser kemana makna dari sebuah "seragam sekolah".
Begitu juga tentang makna perempuan.
Bukannya saya tidak memihak pada emansipasi, hanya saja menurut saya emansipasi bukan berarti kesetaraan gender. Hak dan Kewajiban antara perempuan dan laki-laki, tidak akan pernah sama (untuk beberapa poin).
Perempuan itu adalah sosok yang padanya diamanahkan tugas besar yang menyangkut nasib seluruh umat manusia. Perempuan itu istimewa.
Makanya perempuan pun berhak bersekolah setinggi-tingginya, berhak mengutarakan pendapatnya, berhak hidup merdeka. Namun perlu diingat, meski hak-haknya mirip dengan hak-hak laki-laki, tapi tata caranya berbeda.
Karena perempuan istimewa.
Berhak bersekolah setinggi-tingginya, bukan berarti perempuan lebih baik tidak menikah maupun mengurus rumah tangganya.
Berhak mengutarakan pendapatnya, bukan berarti perempuan harus berteriak-teriak di depan gedung parlemen.
Dan berhak hidup merdeka, bukan berarti perempuan tidak harus taat pada suaminya.
Karena perempuan istimewa.
Jangan menyalahartikan, apalagi menyalahgunakan, keistimewaan yang diberikan Allah pada perempuan. Karena setiap perlakuan istimewa yang ada untuk perempuan, sungguh sebagai sebuah kekuatannya untuk menjalankan amanah besar, yang bahkan berpengaruh bagi seluruh dunia. Percaya?
Kaum feminis mengatakan bahwa menjadi perempuan dalam Islam amatlah susah dan terkekang, lihat saja peraturan dibawah ini:
- Perempuan auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
- Perempuan perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
- Perempuan saksinya kurang dibanding lelaki.
- Perempuan menerima pusaka kurang dari lelaki.
- Perempuan perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
- Perempuan wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak perlu taat kepada isterinya
- Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
- Perempuan kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
Tapi coba perhatikan, bahwa Allah tidak mungkin akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Semua aturan itu sebenarnya adalah sebuah keistimewaan, asal kita mau membuka mata dan melihat keistimewaan tersebut:
- Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti, intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perumpamaan aurat seorang perempuan.
- Perempuan perlu taat kepada suaminya, tetapi laki-laki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang perempuan?
- Perempuan menerima pusaka kurang dari laki-laki, tetapi harta itu menjadi milik pribadi dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara itu manakala lelaki menerima pusaka, maka ia harus menggunakannya untuk isteri dan anak-anaknya.
- Perempuan perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, akan tetapi setiap saat dia akan selalu didoakan oleh semua makhluk Allah di muka bumi dan malaikat, dan jika ia mati karena melahirkan, maka matinya adalah syahid.
- Di akhirat kelak, laki-laki akan diminta pertanggungjawabannya terhadap 4 hal yaitu isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
- Sementara itu seorang perempuan, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang laki-laki yaitu suaminya, ayahnya, anak laki-lakinya dan saudara laki-lakinya.
- Seorang perempuan boleh memasuki pintu surga melalui mana-mana pintu surga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja yaitu sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat pada suami, dan menjaga kehormatannya.
- Seorang laki-laki harus pergi berjihad fisabilillah, tetapi perempuan jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah, akan turut menerima pahala seperti pahala orang yang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Lalu memangnya apa "amanah besar yang Allah bebankan pada perempuan" yang bahkan mempengaruhi seluruh dunia?
Ingat lagi bagaimana Nabi Musa dibesarkan di keluarga Fir'aun? Karena ada seorang perempuan mulia bernama Asiyah yang akan merawat dan mendidiknya.
Ingat lagi bagaimana Nabi Isa lahir hanya dari seorang Ibu, Siti Maryam?
Dan ingatlah, bahwa Rasulullah dibesarkan oleh seorang perempuan juga, Halimatusa'diyah.
Sebaik-baik perencana adalah Allah. Dan Allah telah merencanakan sesuatu yang baik untuk setiap perempuan di muka bumi ini.
Maka jangan sia-siakan keistimewaanmu, perempuan..
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
27.2.09
Ramalan dan Lamaran (??)
Dimana-mana pada ngebahas tentang isu fenomena alam yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2012. Emang sebenarnya ada apa sih di 2012 itu?
Mencoba menulis secara objektif, saya mengutip dari beberapa sumber (tidak hanya dari satu pihak yah)
Mengutip perkataan dari Pak Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bahwa fenomena yang akan muncul pada sekitar tahun 2011-2012 adalah Badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an dan Indonesia oleh LAPAN telah dilakukan sejak tahun 1975.
Nah badai matahari ini sendiri disebabkan karena dua hal, yaitu Flare dan Corona Mass Ejection. Apa sih mereka itu??
Apa itu Flare?
Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari, yang menurut teori dahsyatnya bisa menyamai 66 juta kali ledakan bom atom yang dulu dijatuhkan di kota Hiroshima. Padahal bom atom yang dijatuhkan oleh Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay, Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti kalu dikalikan dengan 66 juta, secara matematis bisa menewaskan 5.280.000.000.000 (dibacain deh kalo nolnya kebanyakan, dibacanya 5.280 triliyun, banyak kan??)
Sedangkan CME adalah sejenis ledakan sangat besar juga di permukaan matahari yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi. (sekitar 400 km/detik)
Nah kedua hal ini bisa mempengaruhi kondisi muatan Antariksa lainnya yang ada, salah satunya yang bakal kenal efeknya adalah Bumi. Khususnya mempengaruhi magnet bumi. Dijelaskan juga bahwa dampak selanjutnya adalah gangguan pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.
Tapi sayangnya, mungkin karena suka sama yang namanya Berita Heboh, mulai lah berita yang sangat bernuansa Ilmiah itu dibumbui dengan macem2. Salah satunya RAMALAN.
Mulai dari ramalan Nostradamus, ramalan bangsa Maya, sampai ke ramalannya Mama Lauren.
Seolah2 semua penjelasan ilmiah tersebut semakin menguatkan ramalan mereka tentang hari Kiamat. Padahal sungguh sebuah ilmu pengetahuan yang telah dibangun susah payah akan sangat ternoda dengan adanya ramalan-ramalan tersebut!
Sebagai seorang Muslim yang cerdas seharusnya tidak akan termakan berita yang menyesatkan, karena sudah paham betul bahwa Kiamat adalah rahasia Allah. Bahkan Rasullullah SAW pun tidak dikasih tau sama Allah. Mengutip dari buku Al-Wafi (Menyelami makna 40 Hadits Rasulullah, Syarah kitab Arba'in An-Nawawiyah) oleh Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mitsu, diriwayatkan bahwa:
Umar bin Khathab ra. berkata,
"Suatu hari, kami duduk dekat Rasulullah SAW., tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan ke lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan di paha beliau,'
Dalam hadits tersebut pria tersebut bertanya tentang hakikat Islam, Iman, dan Ihsan, lalu pertanyaan terakhirnya adalah,
"Laki-laki itu berkata lagi, 'Beritahu aku kapan terjadinya Kiamat.' Nabi menjawab, 'Yang ditanya tidaklah lebih tau daripada yang bertanya.' Dia pun bertanya lagi, 'Beritahu aku tanda-tandanya!' nabi menjawab, 'Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, orang yang bertelanjang kaki dan tidak memakai baju (orang miskin), dan penggembala kambing saling berlomba mendirikan bangunan megah.'
Kemudian laki-laki itu pergi.
Aku diam beberapa waktu.
Setelah itu, Nabi bertanya kepadaku, 'Hai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Dia itu Jibril, datang untuk mengajarkan Islam kepada kalian." (H.R. Muslim)
Sekali lagi, muslim yang cerdas tentunya tidak akan termakan ramalan yang sifatnya musyrik. Karena telah diingatkan bahwa perihal Kiamat adalah rahasia Allah, bukanlah hak dan bukanlah ilmunya manusia untuk menentukan atau memprediksi waktunya.
Nah..apa hubungannya sama LAMARAN??
Karena ada selentingan yang cukup unik, dengan isu Fenomena tahun 2012 tersebut, ada lho orang-orang yang pengen buru2 nikah, atau malah langsung termotivasi untung mencapai target lebih cepat, takut keburu 2012 katanya, hehe ^o^
Sungguh Allah Maha Perencana dan Maha Mengetahui.
Mencoba menulis secara objektif, saya mengutip dari beberapa sumber (tidak hanya dari satu pihak yah)
Mengutip perkataan dari Pak Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bahwa fenomena yang akan muncul pada sekitar tahun 2011-2012 adalah Badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an dan Indonesia oleh LAPAN telah dilakukan sejak tahun 1975.
Nah badai matahari ini sendiri disebabkan karena dua hal, yaitu Flare dan Corona Mass Ejection. Apa sih mereka itu??
Apa itu Flare?
Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari, yang menurut teori dahsyatnya bisa menyamai 66 juta kali ledakan bom atom yang dulu dijatuhkan di kota Hiroshima. Padahal bom atom yang dijatuhkan oleh Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay, Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti kalu dikalikan dengan 66 juta, secara matematis bisa menewaskan 5.280.000.000.000 (dibacain deh kalo nolnya kebanyakan, dibacanya 5.280 triliyun, banyak kan??)
Sedangkan CME adalah sejenis ledakan sangat besar juga di permukaan matahari yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi. (sekitar 400 km/detik)
Nah kedua hal ini bisa mempengaruhi kondisi muatan Antariksa lainnya yang ada, salah satunya yang bakal kenal efeknya adalah Bumi. Khususnya mempengaruhi magnet bumi. Dijelaskan juga bahwa dampak selanjutnya adalah gangguan pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu.
Tapi sayangnya, mungkin karena suka sama yang namanya Berita Heboh, mulai lah berita yang sangat bernuansa Ilmiah itu dibumbui dengan macem2. Salah satunya RAMALAN.
Mulai dari ramalan Nostradamus, ramalan bangsa Maya, sampai ke ramalannya Mama Lauren.
Seolah2 semua penjelasan ilmiah tersebut semakin menguatkan ramalan mereka tentang hari Kiamat. Padahal sungguh sebuah ilmu pengetahuan yang telah dibangun susah payah akan sangat ternoda dengan adanya ramalan-ramalan tersebut!
Sebagai seorang Muslim yang cerdas seharusnya tidak akan termakan berita yang menyesatkan, karena sudah paham betul bahwa Kiamat adalah rahasia Allah. Bahkan Rasullullah SAW pun tidak dikasih tau sama Allah. Mengutip dari buku Al-Wafi (Menyelami makna 40 Hadits Rasulullah, Syarah kitab Arba'in An-Nawawiyah) oleh Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha dan Muhyiddin Mitsu, diriwayatkan bahwa:
Umar bin Khathab ra. berkata,
"Suatu hari, kami duduk dekat Rasulullah SAW., tiba-tiba muncul seorang laki-laki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam legam. Tak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk di depan Nabi, lututnya ditempelkan ke lutut beliau, dan kedua tangannya diletakkan di paha beliau,'
Dalam hadits tersebut pria tersebut bertanya tentang hakikat Islam, Iman, dan Ihsan, lalu pertanyaan terakhirnya adalah,
"Laki-laki itu berkata lagi, 'Beritahu aku kapan terjadinya Kiamat.' Nabi menjawab, 'Yang ditanya tidaklah lebih tau daripada yang bertanya.' Dia pun bertanya lagi, 'Beritahu aku tanda-tandanya!' nabi menjawab, 'Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya, orang yang bertelanjang kaki dan tidak memakai baju (orang miskin), dan penggembala kambing saling berlomba mendirikan bangunan megah.'
Kemudian laki-laki itu pergi.
Aku diam beberapa waktu.
Setelah itu, Nabi bertanya kepadaku, 'Hai Umar, tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda, 'Dia itu Jibril, datang untuk mengajarkan Islam kepada kalian." (H.R. Muslim)
Sekali lagi, muslim yang cerdas tentunya tidak akan termakan ramalan yang sifatnya musyrik. Karena telah diingatkan bahwa perihal Kiamat adalah rahasia Allah, bukanlah hak dan bukanlah ilmunya manusia untuk menentukan atau memprediksi waktunya.
Nah..apa hubungannya sama LAMARAN??
Karena ada selentingan yang cukup unik, dengan isu Fenomena tahun 2012 tersebut, ada lho orang-orang yang pengen buru2 nikah, atau malah langsung termotivasi untung mencapai target lebih cepat, takut keburu 2012 katanya, hehe ^o^
Sungguh Allah Maha Perencana dan Maha Mengetahui.
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
8.2.09
Buat Kak Seto
Waktu berita Syekh Puji menikahi gadis berumur 12 tahun jadi sorotan, Kak Seto yang merupakan Ketua Umum dari Komnas Perlindungan Anak tentunya angkat bicara. Mengingat bahwa di Indonesia, kategori "Anak-anak" adalah dari umur 18 tahun ke bawah, dan Ulfah, gadis yang dinikahi syekh Puji, tergolong anak-anak. Jadilah berdasarkan Undang-Undang, tindakan Syekh tersebut melanggar, karena menikahi anak di bawah umur.
Phy suka lihat kak seto, orangnya "adem". Apalagi dari kecil memang ngikutin acara2nya beliau di tv. Acaranya bagus2, mendidik, kreatif, bahkan jadi trademark. Beliau perhatian sekali sama anak-anak. Karena memang seharusnya begitu. Di tangan anak-anaklah masa depan bangsa yang lebih baik sedang digenggam. Makanya, melihat sosok kak Seto tersebut, phy berharap besar beliau bisa seimbang menanggapi masalah2 mengenai anak-anak di Indonesia khususnya.
Masalah syekh puji yang menikahi gadis 12 tahun, menurut phy pribadi bukanlah suatu masalah. Mereka menikah sah, dengan tata cara islam, dengan adat yang baik, dan dengan keikhlasan kedua belah pihak. Nggak ada masalah kan? Yang dianggap jadi masalah adalah karena dipandang dari beberapa aspek, umur 12 tahun adalah umur yang masih sangat muda untuk mengembang tanggung jawab dalam rumah tangga, umur 12 tahun merupakan umur anak yang masih harus mengenyam pendidikan di bangku sekolah, umur 12 tahun ditakutkan akan mendapat gangguang psikologi jika dihadapkan pada 'pernikahan', dan alasan lainnya yang intinya terdengar membela anak-anak.
Mengingat alasan2 di atas, maka Kak Seto yang selalu berjuang untuk hak-hak anak, beberapa kali terlibat untuk berbicara dengan Syekh Puji.
Lalu di lain sisi, ada masalah lain di dunia anak-anak. Yaitu memperkerjakan anak di bawah umur. Dengan kurang lebih alasan yang sama, bahwa anak-anak belum siap mengembang tanggung jawab besar, masih harus sekolah, dan lingkungan pekerjaan yang bisa merusak psikologi anak (saat seharusnya anak bermain dengan teman sebayanya). Makanya berusaha ditolonglah anak-anak yang dipekerjakan tersebut, dibina, disekolahkan lagi, dan lain-lain. Namun realitasnya masih banyak anak jalanan yang bekerja, dan sebagian dari mereka pun tetap bersekolah. Jadi bekerja sambil bersekolah. Tapi tetap saja, seharusnya anak-anak tersebut bermain dan bersekolah, bukan bekerja mengejar materi. Begitu kurang lebih kesimpulan dari pembelaan untuk tidak memperkerjakan anak di bawah umur.
Tapi ternyata ada satu bidang yang sedang terang-terangan memperkerjakan anak-anak. Di depan mata kita semua, setiap hari. Malahan orang tuanya tidak berkeberatan atas hal itu, malah mendukung sepenuh hati, bahkan ada orang tua lain yang berlomba-lomba menyodorkan anaknya untuk juga bisa bekerja.
Sudah tau bidangnya apa?
Yuph..jadi artis sinetron!!
Artis adalah profesi. Pekerjaan di bidang seni. Dan anak-anak yang sudah menghabiskan sebagian besar waktunya berkecimpung dalam dunia artis bukankah seharusnya dikategorikan seorang pekerja?
Mereka dapat uang dari hasil jerih payah mereka berakting. Mereka juga sedang bekerja kan?
Dan sama seperti anak jalanan yang bekerja, banyak alasan seharusnya dilontarkan untuk membela artis cilik pemain sinetron ini. Mereka juga belum siap mengembang tanggung jawab pekerjaan, mereka juga seharusnya menghabiskan masa kanak-kanak dengan belajar dan bermain, serta lingkungan kerja yang bisa mengganggu perkembangan psikologis mereka (lifestyle yang memanjakan, baju2 terbuka disana-sini, budaya pacaran, omongan kasar, dll).
Sama aja kan?
Yang beda hanya, pekerjaan jadi artis sinetron lebih menghasilkan banyak uang dan gaya hidup yang lebih menggiurkan dibandingkan jadi pengamen jalanan misalnya.
Kenapa justru yang terang-terangan terjadi dan bahkan setiap hari, tidak diperjuangkan?
Mereka sama2 anak2, hanya berbeda jalan hidup.
Tapi hak mereka sama, kan?
Phy yakin kak Seto lebih paham..
Phy suka lihat kak seto, orangnya "adem". Apalagi dari kecil memang ngikutin acara2nya beliau di tv. Acaranya bagus2, mendidik, kreatif, bahkan jadi trademark. Beliau perhatian sekali sama anak-anak. Karena memang seharusnya begitu. Di tangan anak-anaklah masa depan bangsa yang lebih baik sedang digenggam. Makanya, melihat sosok kak Seto tersebut, phy berharap besar beliau bisa seimbang menanggapi masalah2 mengenai anak-anak di Indonesia khususnya.
Masalah syekh puji yang menikahi gadis 12 tahun, menurut phy pribadi bukanlah suatu masalah. Mereka menikah sah, dengan tata cara islam, dengan adat yang baik, dan dengan keikhlasan kedua belah pihak. Nggak ada masalah kan? Yang dianggap jadi masalah adalah karena dipandang dari beberapa aspek, umur 12 tahun adalah umur yang masih sangat muda untuk mengembang tanggung jawab dalam rumah tangga, umur 12 tahun merupakan umur anak yang masih harus mengenyam pendidikan di bangku sekolah, umur 12 tahun ditakutkan akan mendapat gangguang psikologi jika dihadapkan pada 'pernikahan', dan alasan lainnya yang intinya terdengar membela anak-anak.
Mengingat alasan2 di atas, maka Kak Seto yang selalu berjuang untuk hak-hak anak, beberapa kali terlibat untuk berbicara dengan Syekh Puji.
Lalu di lain sisi, ada masalah lain di dunia anak-anak. Yaitu memperkerjakan anak di bawah umur. Dengan kurang lebih alasan yang sama, bahwa anak-anak belum siap mengembang tanggung jawab besar, masih harus sekolah, dan lingkungan pekerjaan yang bisa merusak psikologi anak (saat seharusnya anak bermain dengan teman sebayanya). Makanya berusaha ditolonglah anak-anak yang dipekerjakan tersebut, dibina, disekolahkan lagi, dan lain-lain. Namun realitasnya masih banyak anak jalanan yang bekerja, dan sebagian dari mereka pun tetap bersekolah. Jadi bekerja sambil bersekolah. Tapi tetap saja, seharusnya anak-anak tersebut bermain dan bersekolah, bukan bekerja mengejar materi. Begitu kurang lebih kesimpulan dari pembelaan untuk tidak memperkerjakan anak di bawah umur.
Tapi ternyata ada satu bidang yang sedang terang-terangan memperkerjakan anak-anak. Di depan mata kita semua, setiap hari. Malahan orang tuanya tidak berkeberatan atas hal itu, malah mendukung sepenuh hati, bahkan ada orang tua lain yang berlomba-lomba menyodorkan anaknya untuk juga bisa bekerja.
Sudah tau bidangnya apa?
Yuph..jadi artis sinetron!!
Artis adalah profesi. Pekerjaan di bidang seni. Dan anak-anak yang sudah menghabiskan sebagian besar waktunya berkecimpung dalam dunia artis bukankah seharusnya dikategorikan seorang pekerja?
Mereka dapat uang dari hasil jerih payah mereka berakting. Mereka juga sedang bekerja kan?
Dan sama seperti anak jalanan yang bekerja, banyak alasan seharusnya dilontarkan untuk membela artis cilik pemain sinetron ini. Mereka juga belum siap mengembang tanggung jawab pekerjaan, mereka juga seharusnya menghabiskan masa kanak-kanak dengan belajar dan bermain, serta lingkungan kerja yang bisa mengganggu perkembangan psikologis mereka (lifestyle yang memanjakan, baju2 terbuka disana-sini, budaya pacaran, omongan kasar, dll).
Sama aja kan?
Yang beda hanya, pekerjaan jadi artis sinetron lebih menghasilkan banyak uang dan gaya hidup yang lebih menggiurkan dibandingkan jadi pengamen jalanan misalnya.
Kenapa justru yang terang-terangan terjadi dan bahkan setiap hari, tidak diperjuangkan?
Mereka sama2 anak2, hanya berbeda jalan hidup.
Tapi hak mereka sama, kan?
Phy yakin kak Seto lebih paham..
Posted by
Nurfitriani "pipi" Zakaria
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
