Showing posts with label What I've learned today. Show all posts
Showing posts with label What I've learned today. Show all posts

9.10.15

Ada yang Romantis!

Sejak pertama kali bisa menulis, pesen ibu ke saya ada dua, yaitu:
Pertama, tulisannya yang bagus, pi, biar orang mudah bacanya.
Kedua, setiap nulis selalu diawali dengan nulis bismillah, yah nak.

Hasilnya hingga saat ini tulisan tangan saya termasuk kategori mudah-terbaca, sementara tulisan tangan saya untuk huruf Arab termasuk kategori maap-inih-tulisan-apa-gambar-yah. Kecuali untuk kalimat bismillahirrahmanirrahim.

Rutin menuliskan kalimat itu di bagian atas semua tulisan ternyata punya dampak positif dan negatif buat saya. Positifnya, tulisan huruf Arab saya semakin lancar dan terbaca. Negatifnya, saya menganggapnya jadi sekedar kebiasaan dan nyaris melupakan maknanya.

Yaah..gak bagus-bagus amat, sih, tapi kebaca, kan? hehe..

 Tapi, yah, kalau Allah ingin mengingatkan hamba-Nya mah ada ajah jalannya. 
Seperti hari ini. 

Dari kemarin saya sedang mengikuti penjelasan Nouman Ali Khan tentang surat Al-Fathihah, setelah satu jam lebih membahas ayat pertama, beliau akhirnya sampai di ayat ar rahman ar rahim. Dalam bahasa Indonesia diartikan Maha Pengasih Maha Penyayang. Tapi ternyata setelah mendengar penjelasan beliau, kata "kasih" dan "sayang" jadi terdengar kurang lengkap menggambarkan nama Allah arrahman arrahim.

"Kasih" dan "sayang" punya makna yang mirip, bahkan lebih sering dijadikan satu frasa "kasih sayang". Intinya menggambarkan sebuah perasaan suka, cinta, perhatian, dan murah hati. Padahal makna arrahman arrahim jaaauuuuh lebih indah dari itu. Saya akan coba sampaikan kembali apa yang dibahas sama Nouman Ali Khan, yah, mudah-mudahan bisa tetap sampai maknanya.

Kata arrahman dan arrahim sama-sama berakar dari bahasa Arab rahm yang dalam bahasa Inggris diartikan intense love, care, concern, and mercy, mungkin kurang lebih sama dengan kasih sayang. Meski berasal dari kata yang sama, tapi arrahman dan arrahim adalah dua bentuk kata yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda juga.

Bentuk kata arrahman, menjadikan makna katanya memiliki 3 kualitas:
1. Extreme atau melebihi ekspetasi
2. Terjadi saat ini
3. Bersifat sementara (bisa menghilang karena sesuatu hal yang kita lakukan)

Jadi, arrahman bisa digambarkan bahwa, iyah Allah saat ini sedang mencintai kita, cintanya luar biasa banyaknya kepada kita bahkan melebihi ekspetasi. Cintaaa bangeeet pokoknya! Tapi kalau kita melanggar perintah-Nya maka kasih sayang itu bisa menghilang dari kita.

Sekarang kata arrahim. Bentuk katanya punya 2 kualitas:
1. Bersifat permanen
2. Tidak harus sekarang. Atau berlaku jangka panjang

Jadi, arrahim bisa digambarkan begini, Allah itu sayang sama kita. Allah cinta sama kita. Tapi nggak harus sekarang kok ditunjukkinnya, pokoknya seterusnya selamanya Allah sayang dan cinta sama kita, meski sekarang gak keliatan kasih sayangnya.

Lalu kenapa dua kata itu harus beriringan?

Karena Allah mau ngasih tau kita, Ia tidak hanya mencintai kita saat ini saja, tapi selamanya Allah memang Maha Mencintai.

Kenapa arrahman dulu baru arrahim?

Misalnya begini, Ibu saya jago masak. Semua masakannya selalu enak-enak. Lalu suatu hari, saya pulang kerja dan laper banget. Di rumah, si Ibu udah masak sayur asem sama ikan asin. Tapi bukannya ngebolehin saya makan masakannya yang enak itu, ibu malah nanya, "Besok mau makan apa, pi?".
Kan sebel yah. Apalagi buat orang yang kalau laper jadi galak.

Yang saya butuhkan ketika laper adalah makan saat ini juga. Baru nantinya setelah selesai makan, kalau ibu saya tanya, "Besok mau makan apa?", saya baru siap ngerespons dengan tepat, "Hmm..gurame bakar?" -aduh ngiler- gitu misalnya. Intinya, kita nggak akan mikir mau makan apa besok sebelum kita selesai makan hari ini. 

Kita akan mulai memikirkan masa depan apabila masa kini kita telah selesai diurus dengan baik. Kurang lebih itu pesannya.

Begitula Allah menyandingkan arrahman arrahim. Seolah-olah Allah mau bilang, "Aku mencintaimu saat ini, dengan luar biasa cinta, dan jangan khawatir, Aku juga Sang Maha Cinta yang akan mencintamu selamanya."

Pantas saja kalimat bismillahirrahmanirrahim selalu harus diucapkan di awal setiap kegiatan kita. Supaya kita ingat bahwa saat ini Allah mengurus kita dengan penuh cinta, dan Allah pula yang akan mengurus masa depan kita karena Ia mencintai kita. Lantas mau bersedih karena apa lagi? 

Tiba-tiba kata arrahman arrahim jadi terdengar begitu romantis buat saya. Bukan sekedar bagian dari rutinitas yang ditulis, kata yang diucap, atau bacaan wajib dalam sholat, tapi sebuah ungkapan cinta yang luar biasa dari Tuhan untuk hamba-Nya.

Allah romantis banget, yah? :)

6.10.15

Berkaca Lewat Cerita

Gak ada yang namanya "kebetulan" kan, yah?

Malem ini ada seorang teman yang cerita soal masalahnya, dia butuh pendapat dan masukan, sukur-sukur sayah bisa bantu mikirin solusi. Untung masalahnya bukan tentang pengaruh harga dollar terhadap keseharian karyawan wanita di Jakarta. Justru lebih rumit dari ituh. Tapi saya gak akan membahas masalah itu di sini. Selain karena ituh mengumbar aib orang lain, juga karena gak akan ada sutradara yang tertarik bikin FTV berdasarkan kisah temen saya ituh kok.

Intinya, selama 30 menit kemudian temen saya mulai cerita panjang lebar via chat di whatsapp. Saya sesekali menimpali dengan komentar singkat seperti, terus? oh gitu? hehe. Tapi semakin dibaca, cerita temen saya tadi terlihat semakin real. Saya seperti sedang jadi tokoh juga di cerita itu. Dan akhirnya saya bener-bener berkomentar dalam hati, Hey! Inih masalah yang gw hadapin juga!

Ini seperti berkendara di jalanan yang sama dengan banyak orang. Kita melihat motor atau mobil di depan, kanan, atau kiri kita, kemudian berkomentar,
Ah, motor di depan itu ban-nya kurang angin!
Mobil yang itu pintu belakangnya kurang rapet tuh!
Lah, itu ibu-ibu belok ke kiri tapi malah nyalain lampu sein ke kanan?!
Padahal, mungkin ban motor kita pun kurang angin, lampu sein lupa dimatikan, atau helm kebalik. Tapi kita nggak ngeh semua hal itu sedang terjadi juga di diri kita.


Mungkin memang lebih mudah melihat masalah orang lain lebih dulu dibanding masalah kita sendiri, yah?


Hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, kok. Saya pernah lupa menaikkan standar motor saat nyetir. Nggak lama kemudian saya liat seorang bapak yang lupa menaikkan standar motornya, saya buru-buru ngecek standar motor saya juga. Dan ternyata bener. Akhirnya saya naikkan standar motor dan klakson si bapak-bapak tadi untuk ngingetin hal yang sama.

Jadi, mungkin yah, mungkiiin, Allah memang ingin saya sadar bahwa saya sedang dalam masalah. Langkah awal keluar dari masalah adalah sadar sepenuhnya bahwa -well- kita sedang dalam masalah! Dan uniknya, Allah mengingatkan saya melalui cerita temen saya tadi. 

Temen saya mungkin enggak tau bahwa saya sedang mengalami masalah yang sama. Tapi kan Allah tau. Apa susahnya bagi Allah mempertemukan kami dalam cerita?

Setelah temen saya tuntas cerita, saya jadi bisa melihat masalah dengan lebih logis.
Sama seperti kasus melihat ban motor orang lain yang kempes, tentunya dengan mudah kita akan langsung berpikir bahwa solusinya adalah pergi ke tukang tambal ban. Tapi coba kalau ban motor kita yang kempes. Kita sibuk berprasangka dulu, inih beneran kempes atau perasaan gw doang yah? kayaknya sih kempes. Coba diteken dulu deh. Seginih kempes gak yah?. Dan malah menunda menjalankan solusinya.

Akhirnya saya coba kasih masukan untuk temen saya tadi, kasih pendapat, dan bahkan sempat berusaha memberi solusi juga. Tapi yang temen saya gak tau adalah saya sedang bicara dengan diri saya sendiri. This is my problem too! But now I see it in a different light. A brighter one. (Duh tetiba banyak ninja sedang ngupas bawang merah di kamar sayah. Tissu mana? Tissuu?)

Pada bagian akhir, temen saya mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati mendengarkan ceritanya. Saya pun mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati membantu saya berkaca lewat ceritanya.

Mungkin ini salah satu penafsiran yang tepat untuk salah satu kalam Allah, bahwa saat kita berbuat baik untuk saudara kita, sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri. Inshaa Allah.



26.9.15

Bukan Dicari tapi Dijemput.

Lagi demen-demennya nonton Masterchef Australia, nih.
Karena?
Well, those foods look ENAK BANGET!

Si Bapak sampai heran dan berulang kali nanya hal yang sama setiap kali saya sedang nonton acara masak tersebut. Suatu kali, setelah cukup lama duduk dan mencoba melihat sisi menarik dari acara favorit saya, si Bapak nyerah.

Bapak: Apa serunya, sih, pi?
Pipi: Seruuu, paak! Itu mereka harus masak yang unik dan enak, terus waktunya terbatas.
Bapak: Ah, biasa aja.
Pipi: Tuh, tuh, pak, keliatannya enak banget, tapi ternyata kata jurinya kurang enak.
Ibu: Pipi! Mending kamu sini ngaduk santen di kompor! Nonton acara masak tapi kagak bantuin masak!

Yah, intinyah, kata bapak, acara favorit saya gak ada bagus-bagusnya.
Dan kata ibu..yah..begituhlah, hahaha!

Setelah ngaduk santen, ternyata remote TV udah lagi dalam kuasa si Bapak. Ketahuilah, acara favorit si Bapak adalah semacam Animal Planet, Wild Life, atau apapun yang melibatkan adegan binatang sedang hidup normal gitu. Apa serunya coba?

Berhubung tadi si Bapak udah mencoba memahami sisi menarik acara favorit saya, jadi sekarang gantian. Akhirnya saya duduk di sebelah bapak, nonton ikan salmon berenang sambil tetap ngecek acara selanjutnya apa dan kapan acara ini habis.

Ikan salmon yang sudah dewasa dan telah berenang ke hilir harus kembali ke hulu untuk bereproduksi di sana. Nah, perjalanan hilir ke hulu inih lumayan sulit, bahkan sampai harus melompati air terjun kecil. Lompatnya dari bawah ke atas gitu lagih, bukan dari atas ke bawah. Kalu dari atas ke bawah saya juga bisa, tapi jangan deh, khawatir airnyah tumpah semuah. Back to the Salmon, pas lagi nonton ikan salmon melompat dari bawah air terjun kecil ke bagian atas air terjun ini lah saya melihat hal yang amazing

Di atas air terjun, ada beberapa ekor beruang.  Mereka predator bagi ikan salmon. Sebagian dari mereka sibuk menyibak-nyibak air sungai untuk menangkap ikan salmon, tapi sebagian lainnya hanya cukup membuka mulut maka ikan salmon yang melompat dari bagian bawah air terjun akan langsung masuk ke mulut mereka! Keren!
 
 
Kayak kata iklan sosis, "Tinggal lep!"


Coba bayangin kalau kita lapar dan tinggal buka mulut, terus makanan berterbangan masuk. Ayam goreng, cokelat, kue keju, sate ayam..eh sate ayam jangan deh, serem juga sih kalu sate ayam terbang masuk ke mulut. Ituh tusukannya kan agak-agak mengancam kesehatan tenggorokan, yah. Intinyaaah, that flying food is cool!

Adegan beruang makan salmon itu lah yang membuat saya berubah pikiran tentang acara favoritnya si Bapak. Karena saya jadi inget konsep "menjemput rezeki" yang sering dibahas Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya di radio. 

Beberapa orang akan bilang "mencari rezeki" tapi nyatanya rezeki-lah yang menemukan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjemputnya dengan cara yang baik dan niat yang benar. Jadi akan lebih tepat kalau disebut "menjemput rezeki" dibandingkan dengan "mencari rezeki".

Saat mencari sesuatu, misalnya mencari penghapus yang hilang waktu jaman sekolah. Kita akan sibuk keliling mengecek kotak pensil teman, kolong meja, pot taneman bu guru, keranjang gorengan di kantin, bahkan nanya sama temen-temen, Eh liat pengapus gw gak? Sementara si penghapus mah diem ajah menunggu kita temukan di kantong baju sendiri. 

Orang yang sedang mencari akan lebih banyak bergerak dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada hal yang dicarinya. Rezeki pun sama, dia lah yang menemukan kita!  

Tapi, kan, saya kerja jauh, 30 km dari rumah, musti kena macet, kerjaannya banyak, terus nunggu tanggal 25 dulu! Usaha saya lebih banyak dari usaha rezeki menghampiri saya, makanya saya mencari si rezeki.

Pertama, rezeki bukan melulu berarti uang.
Kedua, kata siapa usaha kita mendekat pada rezeki lebih besar dari usaha rezeki mendekat pada kita?

Saat haus di rumah?
Kita cukup berjalan dari kamar ke dapur. Mengambil gelas. Pencet dispenser. Minum.
Saat haus di jalan?
Cukup mampir di warung. Keluar uang 1000 rupiah. Tusuk sedotan. Minum.
Saat haus di kolam renang?
Tenang, sayah gak doyan minum aer kolam. 

Coba kita bandingkan dengan perjalanan si air minum untuk sampai ke perut kita. Entah dari mata air pegunungan mana, sudah mengalir berapa jauh, kemudian dijernihkan oleh orang yang kita pun enggak kenal, dikemas oleh orang yang sama juga kita enggak kenal, dibawa oleh supir-supir yang kita nggak berusaha pengen kenal juga, terus sampai ke rak jualan Ind*mart, kita beli, kita minum. 

Perjalanan rezeki kita begitu jaaauuuuh kalau dibandingkan perjalanan dan usaha kita untuk menjemputnya. Maka yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan usaha dan meluruskan niat. Bukan sibuk "mencari rezeki" sampai melupakan Yang Memberi Rezeki. Yakinlah, rezeki akan menemukanmu :)

Mirip dengan si beruang tadi, ada yang sibuk menyiduk ikan salmon dari air dan ada juga yang hanya membuka mulut lalu ikan salmon akan beterbangan masuk ke mulut mereka. Mungkin beruang hanya perlu berjalan sedikit ke air, tapi ikan salmon yang jadi makanan beruang sudah berenang jauuuh sekali untuk berakhir di perut si beruang. Tidak meleset satu ekor pun kalau memang takdirnyah menjadi makanan beruang.

Apapun usaha terbaik yang kita lakukan, Allah tidak akan meleset mengantarkan rezeki kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki. Inshaa Allah..

Yaah, jadinya saya nonton acara itu sampai habis sama si Bapak.
Ternyata, lebih keren acara favoritnya si Bapak, euy! :p

ps:
Eh, jodoh juga rezeki, kan yah? Hehehe..

14.9.15

What's inside the "Inside Out"


Dari sejak lihat trailer-nya di bioskop maupun di internet, film Inside Out udah sayah 'tandain' sebagai fim wajib nonton. Karena selain -well it's Disney's and Pixar's!- animasi, katanyah Inside Out yang bercerita tentang bagaimana emosi bekerja dalam pikiran manusia, bener-bener serius menggarap film ini sampai melibatkan para ahli psikologis. Sounds promising, isn't it?

Setelah beberapa kali gagal nonton bareng sama temen-temen kantor, akhirnya minggu lalu saya jadi juga nonton film inih bareng ade dan keponakan (fyi, ade sayah tidur sepanjang film dan keponakan sayah sibuk makan berondong jagung). Anyway, yang penting nonton! Hooraaaay! 

Sayah infokan sebelumnya, kelanjutan tulisan inih akan ada sedikit spoiler film Inside Out, jadi buat kalian yang pengen nonton tapi belum sempet, mending jangan baca, deh. Nanti kalu sebel trus ngambek dan minta beli balon kan repot. I warned ya'..

Jaaadiii..
Di Inside Out, kita akan kenalan sama para Emosi!
Ada joy, sad, disgust, fear, dan anger. Berhubung karakter utama di film itu adalah Riley, anak umur 11 tahun, jadi yang pegang kendali terbesar sejak lahir hingga umur 11 tahun adalah joy. Jelas yah? Anak-anak identik dengan keceriaan dan kebahagiaan. 

Dengan dipimpin oleh joy, semua emosi lainnya bekerja sama untuk membuat hidup Riley bahagia setiap saat. Kecuali sad. Dari awal film, sad udah di 'kucilkan', dianggep ngeganggu, dan nggak ada gunanya. Surprisingly, sayah kebawa sama film itu, hehehe, sempet mikir, "Inih apah deh si sad ngerusak ajah, ngapain sih ada si sad?"

Ternyata sayah ikutan bertanya: untuk apa ada kesedihan? kenapa nggak ciptain kebahagiaan ajah?

Sayah nggak akan cerita bagaimana akhirnya kesedihan punya perannya sendiri dalam membuat hidup manusia bahagia seperti di film Inside Out. Tapi yang saya mau cerita adalah if pursuit a happiness is meant to be human life goal, then why Allah bother making another emotion which the opposite of happiness? Sedangkan apapun yang Allah ciptakan tidak mungkin sia-sia.

Sampai keluar dari bioskop, saya masih hanya larut dengan konklusi yang dibuat oleh penulis cerita film Inside Out, bahwa untuk bisa bahagia, kamu perlu mengenal kesedihan. Tapi kemudian esoknya, Allah ingin suatu ilmu sampai ke saya, jadi dibuatNya temen saya di kantor mendengarkan ceramah, dan menyampaikan ceramah ituh ke saya. Sungguh itu bukan kebetulan.

Temen saya cerita tentang kajian di channel youtube Bayyinah Institute oleh Nouman Ali, tentang apa sebenernya yang diusahakan manusia, what are you pursuing in life? Akhirnya saya nonton video berdurasi sekitar 40 menit tersebut, dan langsung merasa malu dengan pemikiran saya sehari sebelumnya.

Ternyata bukan kebahagiaan lah yang manusia cari, bukan si joy yang harus menguasai kendali emosi manusia untuk bisa membuatnya bahagia, dan bukan dengan menghilangkan si sad lantas manusia baru bisa bahagia. Ternyata bukan semua itu.

Nouman Ali cerita, bahwa untuk bahagia itu mudah. Semudah menunda bangun tidur beberapa menit hanya untuk berbahagia tidur nyaman lebih lama di kasur empuk. Namun kebahagiaan seperti itu sifatnya sementara, beberapa saat kemudian kita akan merasa bersalah, panik, dan tidak bahagia.

Sebenernya Nouman Ali cerita banyak hal tentang apa saja yang dicari manusia dalam hidupnya di video tersebut, tapi yang ingin saya garis bawahi adalah manusia bukan diminta untuk mencari kebahagiaan, melainkan mencari ketenangan dan ketentraman. 

Ah iyah! Sayah jadi ingat salah satu ayat di Al-Quran:
"...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."
(QS Ar Ra'du ayat 28)

Bukan berarti untuk mencari ketentraman kita jadi tidak bahagia, bukan seperti itu. Justru ketika mengingat Allah yang menentramkan hati, inshaa Allah kebahagiaan akan ikut hadir. Dan bukan sekedar bahagia seperti mendapat hadiah kuis tebak lagu, tapi kebahagiaan karena rasa syukur dan sabar dalam menjalani semua episode hidup.

Joy, sad, anger, disgust, dan fear bukanlah sosok-sosok yang harus kita beri makan hingga tumbuh besar dan mengendalikan diri kita. Joy tidak selalu harus menjadi paling dominan, fear-anger-disgust bukan sekedar pendukung bagi joy, dan sad bukanlah emosi yang harus dikucilkan. Justru mereka adalah kendaraan kita untuk senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun.


Bersyukur ketika senang, bersabar ketika sedih, mohon ampun ketika marah, rendah hati ketika melihat sesuatu yang kurang kita sukai, dan mohon perlindungan ketika ketakutan. See? Semua emosi akan jadi kendaraan yang bagus untuk mencapai ketentraman dengan mengingat Allah. Ketentraman seperti inihlah yang akan  membawa kebahagiaan sejati.



ps:
Accepting this insight about emotion is a thing for me, but to apply it in my daily life, it's another thing. Hahaha.. semoga Allah tolong dan mudahkan selalu :)

31.1.12

A Falling Candy

Pernah gak, lagi buka bungkus permen, siap di makan, eh pas sampe depan mulut permennya jatoh ke tanah dan sukses ngegelinding ke got.
Menurut Ibu saya itu perumpamaan paling cocok untuk hal yang baru aja terjadi dalam hidup saya.

Dari sebelum lulus saya udah diminta masukin CV dan surat lamaran kerja ke sekolah almamater saya. Entah jadi laboran atau pun guru fisika. Tapi saya bilang tunggu saya lulus, karena satu semester kemarin saya bener-bener kerja keras kuliah-seminar-sidang sepaket. Akhirnya setelah lulus dan puas jalan-jalan, saya siap masuk dunia kerja. Jadi guru, boi!!

Alhamdulillah saya diterima. Dapet jadwal ngajar 7 kelas, itu menurut jadwal yang saya terima hari Jumat, tiga hari sebelum saya officially ngajar di sekolah. Murid-murid privat saya yang emang anak sekolahan itu juga pada sms liat nama saya di jadwal pelajaran fisika. Ini yang dianalogikan ibu saya sebagai bungkus permen yang udah kebuka.

Lalu kapan si permen jatoh?
Besoknya, kawan.
Sabtu saya dikabarin, bahwa ada pemerataan guru dari dinas. Jadi sekolah yang kekurangan guru akan dikasih dari sekolah yang kelebihan guru. Sekolah tempat saya ngajar itu kebagian 2 orang guru kiriman. So? They don't need me anymore. Saya gak jadi ngajar di sana.

Ibu saya yang paling sedih gitu kayaknya, soalnya udah seneng anaknya yang paling cakep ini (ada yang mau protes? kirim surat sini kalu berani! :p) bisa ngajar di sekolahan bagus dan deket pula. Ibu takut saya sedih, berkali-kali beliau nepuk-nepuk bahu saya sambil bilang, "Nggak apa-apa yah nak, mungkin bukan rezeki pipi,". Padahal saya tau beliau yang sedih :(

Jadi saya cuma senyum ke ibu dan bilang, "Bu, pipi nggak sedih sama sekali. Kalu kata Aa Gym yah bu, gajah aja nggak sekolah tapi badannya bisa gede-gede, tetes embun yang jatuh aja punya nasibnya, apalagi pipi yang manusia bu, Alloh gak akan nelantarin pipi cuma gara-gara nggak dapet kerja di satu tempat,"

Duh gimana yah jelasinnya? Saya terlalu yakin bahwa Alloh nggak akan ninggalin saya, nggak akan bikin saya menderita, nggak akan bikin saya kecewa. Orang bilang saya naif dan gak realistis. Justru ini sangat realistis menurut saya.

Sama seperti waktu saya gak lulus SPMB, saya nangis meraung-raung untuk akhirnya bisa bersyukur bahwa saya nggak lulus. Sekarang lain, saya udah tau ilmunya, saya nggak perlu lagi nangis meraung-raung untuk suatu hari nanti bisa bersyukur saya nggak jadi ngajar di sana. Karena Alloh siapin hal yang lebih baik untuk saya. Yakin.

Gak percaya?

Postingan berikutnya pasti akan membuktikannya! Pasti. Yakin.

26.9.11

mengejar Toga!

Toga. Wisuda. Lulus.

Sakral banget yah mereka?
Boleh saya bilang, bahwa proses saya "mengejar" toga, adalah salah satu penelitian ilmiah tentang bagaimana Allah menolong saya dengan luar biasa. Kenapa saya bilang ilmiah? Karena hipotesa saya terbukti dengan berbagai pembuktian tak terduga.

Dimulai dari seminar pra skripsi. Di postingan terakhir saya bilang cerita soal gimana saya sempet panik dapet dosen penguji yang terkenal jago pandai menghancurkan impian mahasiswa lulus cepet. Tapi tahukah kalian wahai orang-orang yang beriman? Pas saya maju seminar, Dosen itu baaiiiiiiiiik banget. Sumpah. Orang pada bingung. Saya senyum-senyum. Temen-temen yang menanti saya dibantai tampak kecewa, mirip orang nonton layar tancep kena gerimis.

Paska seminar, lanjut ke ngambil data. Subhanallah yah.. saya mondar-mandir kampus dan sekolahan dan kampus lagi demi rentetan data-data itu. Ngejar dosen (dalam artian sebenernya, melibatkan keringet bercucuran soalnya) dari kampus A ke kampus B, dari depok, rawamangun, sampe ke semanggi demi dapet data soal media saya ataupun demi tanda tangan di KRS dan surat-surat lainnya. Yang saya inget dari masa-masa ini adalah ketika dosen saya telpon dan bilang, "Saya lagi fisioterapi di RS daerah semanggi, bisa ke sini aja?" dan saya langsung bilang bisa padahal nama RSnya aja baru denger sekali ini. But still, ternyata saya bisa ngelewatin itu semua, di saat orang lain rasanya pesimis dan lebih milih ngambil skripsi smester depan, saya optimis dan  bersedia berkeringat lebih (momen dmana rasanya mandi lebih pentingd daripada makan).

Perjuangan panjang itu akhirnya sampe di hari saya daftar SIDANG SKRIPSI. Kali ini saya dapet 3 orang penguji. Salah satu di antaranya adalah dosen berinisial S, yang lagi-lagi menurut mahasiswa bimbingannya adalah dosen yang merasa bahwa melihat mahasiswanya keringat dingin merapal doa adalah sama menariknya dengan nonton AADC. Coba yaaaah, ini temen2 kok demen banget nakut2in gw sebelum sidang?? Tapi tenang aja, sebagaimana seminar dulu, saya udah punya resepnya menghadapi hal kayak gini. Nanti terakhir baru saya bahas.

Di hari sidang skripsi, saya naik bis seperti biasa. Udah siap-siap tidur ketika tiba-tiba seseorang naik ke bis dan negor saya. Guess who? Dia dosen yang dulu nguji saya waktu seminar. Beliau langsung duduk manis di sebelah saya, dan terjadilah obrolan yang gak akan saya lupa seumur idup.
Dosen (D): Sidang hari ini kan?
Saya (S): Iya pak
D: Siapa aja pengujinya?
S: Pak S, Pak U, sama Bu V.
D: Pak S keluar kota kemarin sore, saya aja yah yang gantiin
S: beneran pak?? *sumpah suara gw kenceng banget pas ini, pengamen sampe nengok
D: beneran, mana sini skripsi kamu, saya liat dulu
S: *dengan sigap nyerahin skripsi sebelum ni dosen berubah pikiran
D: *baca* hmm..ini benerin dulu jadi nanti pas maju gak salah
Yassaalaaam..saya direvisi duluan di bis!! Jadi pas giliran saya maju, sumpah lancar banget! Alhamdulillah se alhamdulillah-alhamdulillahnya manusia bisa alhamdulillah (apa si?)

Selesai sidang, hadirlah revisi dan acc. Disini saya smpet ketabrak motor di depan rumah pas mau nyebrang -_-'. Dan perlu dicatat yah kawan-kawan, jatoh kepala duluan ternyata bisa menyebabkan benjol dan kerudungan kotor kena tanah.

Saya lagi di jalan dari jogja pas hari terakhir acc. Berdoa dalem hati berjam-jam di jalan, berharap dosen-dosennya baik hati dan langsung ngasih tandatangan. Saya janjian di 3 tempat berbeda sama 5 dosen yang harus tanda tangan. Saya belum mandi dari jogja, jam 6 pagi saya dibantu ade, bapak, dan ibu saya yang ikutan ribet ngeprint dan lain-lain, akhirnya berhasil ke tempat pertama saya janjian sama dosen. Dan yu no wat? Betapa kagetnya sayah ternyata kelima dosen itu ada di sana semua. ADA APA INI? Kalau saya boleh lebay, saya mau nangis sambil sujud sukur, tapi karena nggak boleh lebay, maka saya cuma cengar-cengir bahagia. 1 tempat 5 dosen. Komplit 5 tanda tangan dalam 1 jam. Alhamdulillah 1000x nggak cukup kan?

Dan seterusnya saya beresin pemberkasan skripsi saya, tes TOEFL yang alhamdulillah sekali langsung lulus, dan lain-lain yang berhubungan sama wisuda. Setelah kejar-kejaran yang penuh perjuangan. Akhirnya Toga itu buat saya.

Yeeey!
Lulus sendirian dari 36 temen sekelas. IPK 3.51!! Bayangkan cuma dengan 0.01 saya akhirnya cum laude, hahahah. Doesn't matter anymore lah..

Oke, dulu waktu saya gak lulus SPMB saya smpet bilang itu adalah titik balik hidup saya. Bahwa sejak itu hidup saya berubah dan lain-lain. Sekali lagi saya bersyukur gak lulus SPMB, karena dengan begitu Alloh ternyata mau ngajarin saya banyak hal di UNJ. Bukan cuma soal fisika aje boi..

Banyak kejadian yang rasanya semesta bener-bener mendukung niat saya untuk lulus, macemnya dosen yang tiba-tiba jadi baik, atau lagi keluar kota, atau ngumpul di satu tempat dan bersedia dimintai tandatangan dengan mudah. Juga macemnya lancar ujian sidang, nilai A yang menyumbang 0.01 poin lebih untuk saya jadi cum laude, atau sekedar jalanan gak macet ketika saya nyaris telat ketemu dosen.

Saya beruntung?

Bukan, kawan. Sederhana, saya selalu hanya minta Alloh menolong saya.

Kalu saat nyaris telat itu saya cuma ngedumel dalem bis, apa masalah selesai? nggak. Tapi Alloh ringankan langkah saya nyari ojek (yes, dude, usaha!). 
Kalu takut dosennya galak? Mau di apa? Bujukin dosennya? Ngedukunin dosennya (amit2 dah)? Noo..sederhana kawan, minta sama pemiliknya. Alloh Maha Pembolak-balik hati, apa sulitnya Dia tiba-tiba membalik hati sang dosen jadi gak demen marah2?
Kalu khawatir saat maju sidang bakal tergagap2 dan lupa, mau apa? Minta sama Alloh, yang jaga ilmu dalam otak qt ini cuma Dia, yang punya pun Dia, apa sulitnya tiba-tiba Dia ambil semua ingatan soal skripsi saat saya lagi sidang?

Intinya, saya yakin, saya nggak akan bisa kalau Alloh nggak tolong saya :)
itu aja.
Dan untuk meyakini hal macem ini hingga ke sumsum tulang terdalam (aiih bahasa gw, sumpah sumsum tulang terdalam itu yg mana yah?), saya diajarkan langsung selama 4 tahun di UNJ.

Soal pinter fisika, mungkin saya bukan yang paling pinter. Tapi soal yakin sama kuasa Alloh, saya paling yakin.

Satu pertempuran telah selesai lagi. Sebagai bangsa saiya yang budiman, saya deklarasikan saya makin kuat. Yaaah..masuk level saiya super lah dengan lulusnya saya dari UNJ ini :)

8.5.11

I still need a reminder

Akhirnya saya dapet jadwal buat Seminar proposal skripsi, which is tomorrow a.k.a. Senin 09 Mei 2011 jam 1 siang.

Setelah penantian lumayan panjang kayak lagunya Nikita Willy, akhirnya telepon keramat itu datang juga ke hape saya. Beritanya pun nyampe ketika saya lagi di kondisi yang paling nyantai (baca: tidur di bis dalam perjalanan ke kampus), saya kontan senyum-senyum seneng. Heheh. Itu reaksi awalnya.

Sampai di kampus, saya ke sekret BEM dulu. Setelah ngurus surat-surat ke MTM, mindahin tugas artikel2 dan desain2 ke komputer BEM, dan ikutan makan es krim sama temen-temen, saya cerita deh ke mereka bahwa akhirnya saya dapet jadwal seminar (thanks for all those good prays :D). Saya jadi senyum-senyum seneng lagi. Itu masih reaksi awalnya.
Habis dari BEM saya janjian sama temen-temen kelas untuk ikutan diskusi sama dosen favorit saya (I've mentioned him in my previous post too). Ternyata mereka udah tau kalu saya dijadwal SPS hari Senin, jadi pertanyaan mereka adalah, "Siapa dosen pengujinya?". Saya jawab, "Pak *****!". Berikut reaksi mereka :

temen1 : ehm..selamat yah pi (dengan wajah prihatin kayak liat seseorang abis nginjek sesuatu yang lembek)
temen2 : begh..abis lu pi!
temen3 : ya ampun, jam berapa? gw pengen liat.. (dengan wajah penantian, macam kita nonton OVJ dan nunggu kapan Sule bakal jatoh niban properti gabus)
temen4 : tenang aja pi, elu pasti bisa kok..
Nampaknya bapak Dosen Penguji saya besok udah mencetak pengalaman yang agak kurang enak sama temen1-2-3 saya yang udah maju SPS, makanya dia bilang begitu. Sedangkan temen4, meski belum maju SPS, tapi dia percaya sama saya (makasih kawan :')). Ditambah lagi, temen saya yang ke-5 bilang gini,

temen5 : Pi, kan nggak usah pake uji validitas & reabilitas tau
saya : hah?! Mampus gw! Udah gw print dan gw kasih ke dosen, punya lu juga pake kan?
temen5 : iya, tapi akhirnya gak gw print :D
saya : *pengen garuk aspal, dan garuk apa aja yg gatel)

Kiri-kanan : temen4 (icha), temen5 (esti), saya
 
Jadi intinya, saya melakukan kesalahan pada proposal saya, sementara besok udah harus dipresentasiin, hard copynya pun udah di tangan dosen. Di tambah lagi image dosen penguji saya yg digambarkan dengan jelas sama temen 1-2-3 tadi. Saya makin kepikiran. Masya Alloh, gimana caranya saya ngeles dari dosen killer itu gara2 saya gak baca teliti proposal skripsi SAYA SENDIRI ?

Gara-gara dua hal itu, image dosen penguji dan kesalahan dalam proposal, saya jadi gak konsen. Sepanjang jalan ke kampus B saya mikirin itu, berdecak ngeluh beberapa kali, bilang "Gimana nih guee??" entah berapa kali. Ini reaksi pertengahan saya.

Sampai akhirnya temen5 saya itu kesel kali yah liat saya kayak ababil, dan bilang begini, "Udah sih pi! Elu tuh biasanya gak gini, elu kan orang paling tenang yang pernah gw kenal!"
JLEBB!!

Kalian pernah liat di film Dragon Ball, waktu Goku udah nyaris kalah sama Freeza? Saat itu Goku udah pasrah banget rasanya bakal kalah sama Freeza. Tapi dia diingetin sama Bezita, bahwa mereka bangsa Saiya, bangsa istimewa yang nggak mundur dari pertempuran. Akhirnya Goku malah jadi Saiya Super buat pertama kalinya.

Well..kurang lebih saya merasa kayak Goku saat temen saya bilang kayak gitu. Saya diingetin lagi, bahwa saya tuh bukan orang macem itu. Yang bakal takut menghadapi ujian, takut sama dosen, apalagi takut ngakuin kesalahan. At least, saya nggak mau jadi orang kayak gitu. Sukur2 endingnya saya bisa jadi manusia Saiya Super :p

Bukannya saya pernah bilang dulu, bahwa (mungkin) saya juga keturunan Bangsa Saiya yang gak suka nyerah? Saya juga pernah bilang, bahwa Aa Gym ngingetin saya untuk tidak takut pada Ujian, pada pertanyaan yang akan diujikan, atau pada Dosen Pengujinya, tapi takutlah kalau sampai saya tidak ditolong Alloh. Saya seperti dihadapakan lagi sama semua kata-kata saya itu.

Setelah sholat ashar, saya ngucapin terima kasih udah diingetin sama temen saya itu. Terima kasih sudah ingetin saya soal bagaimana menjadi diri saya sendiri. Saya putuskan untuk ngakuin kesalahan saya di seminar proposal besok dan saya minta pertolongan Alloh selalu ada untuk saya setiap saat. Itu reaksi akhir saya.

13.4.11

Bapak bikin saya mikir. (lagi)

Tadi bapak minta saya baca artikel di Hidayatullah tentang Film Tanda Tanya.
Setelah selesai saya baca, bapak manggil saya duduk di depan TV, trus nanya apa aja yang dibahas pak Mustofa B. Nahrawardaya di tulisannya. Dan saya seperti biasa menceritakan panjang lebar sampai ke detail2 tulisannya.

Firstly, waktu saya habis nonton filmnya dan saya bilang ke Bapak dan Ibu bahwa filmnya bagus. Saya suka filmnya. Bla-bla-bla. Bapak nggak banyak komentar, dan kalu bapak nggak komentar, saya jadi bingung :D.
Seperti udah saya sebut sebelumnya, bahwa the strongest point that attract me to that movie is about not generalizing people by their religion, nation, or even gender. Iyah, saya tertarik dan suka film itu karena digambarkan bahwa ada orang Islam yang baik, rajin sholat, ramah, dan lain2nya. Tapi ada juga orang Islam yang kasar mulutnya, kasar tangannya, dan suka bergunjing. Begitu juga orang kristen dan agama lainnya. Karena yah, satu2nya yang dijaga Alloh dari perbuatan dosa adalah Rasulullah, saya yakin. Dan tugas kita umatnya untuk terus berusaha meniru Beliau, meski tidak akan pernah sama.

Kemudiaaan..setelah saya diskusi sama bapak.
Ternyata yang mau dibahas adalah tentang Toleransi. Sejauh ini saya suka sama film Tanda Tanya karena plot penokohannya, tapi kali ini yang bapak mau bahas adalah pesan Toleransinya. Kurang lebih kayak begini obrolannya..

bapak : yang namanya Toleransi, nak, cukup dengan "Untukmu agamamu, Untukku agamaku"

pipi : jadi maksudnya nggak boleh sampe berperan jadi Yesus di drama, sholat di deket tempat sembahyang agama lain, atau ngejaga gereja di hari besar mereka?

bapak : bukan boleh tidak boleh, tapi hal-hal seperti itu nggak perlu lah..

pipi : jadi boleh?

bapak : boleh dalam keadaan tertentu

pipi : keadaan tertentu macam apa?

bapak : kalau mereka butuh dan kita sedang ada di dekatnya, atau kita butuh dan kita sedang ada di tempat mereka

pipi : waktu jaman Rasul pun begitu, pak?

bapak : begitu nak, Rasul kan hidup berdampingan dengan suku2 Yahudi di Madinah, waktu Rasul mau perang dan orang Yahudi menawarkan bantuannya, Rasul menolak dengan sopan padahal armada perangnya jelas kurang, tapi karena perangnya di jalan Allah dan Rasul menjaga agar perang itu hanya demi Islam, maka Rasul tolak bantuannya.

pipi : Seinget pipi waktu perang parit ada satu sisi yang dijaga perkampungan Yahudi, berarti secara gak langsung orang Yahudi bantuin orang Islam perang dong pak?

bapak : ada yang namanya piagam madinah, itu kesepakatan yang Rasul buat bersama orang Yahudi juga, dan disitu mereka bersama akan bahu-membahu menjaga Madinah. Bukan bahu membahu menjaga umat Islam atau bahu membahu menjaga umat Yahudi

pipi : seperti itu yang Rasul contohin?

bapak : iya

Oke, habis perkara. Kalau bapak bilang Rasul begini, ditambah Alquran, buku2 dan hadits pendukung, maka saya nggak punya argumen lebih untuk menolak. 

Jadi kesimpulannya, apa film TandaTanya bagus?
Well, itu jelas relatif yah.
Tapi buat saya pelajaran dari film TandaTanya itu adalah bahwa manusia dipandang bukan dari agamanya atau sukunya, tapi perbuatannya. Sedangkan pesan toleransi yang ingin disampaikannya? Hmm..menurut saya ada cara jauh lebih cerdas untuk menyampaikan makna toleransi beragama dibandingkan apa yang sudah coba Film itu sampaikan. 


Sort of like that lah..

27.3.11

Seperti tukang odong-odong untuk sang Hujan.

Saya belum ngantuk, heran nih. Biasanya saya gampang banget tidur. Tapi karena mayoritas malam-malam saya habiskan untuk begadang entah baca buku, main laptop, atau ngerjain tugas, jadinya mata saya terbiasa tidur sangat larut malam. Atau disebut sangat pagi yah kalau pukul 02.00 AM ? Pokoknya itu lah..
Dan sekarang meskipun nggak ada tugas, mata saya udah pegel pake kacamata (oh yeah, saya silindris, tau kan itu apaan? kalu gak tau tanya sama pa RT) buat baca buku, tapi saya belum ngantuk. Jadi lah saya pikir daripada saya cuma tiduran sambil menatap langit-langit kamar kayak artis-artis sinetron kalau lagi monolog nggak penting, mending saya nulis! Nulis apa kek gitu, cerita apa kek gitu, yang penting saya gak diem.

Hmm..cerita apa yah?
Ah yah, sebenarnya saya udah tau ini sejak lama, tapi akhirnya minggu lalu saya jadi juga iseng-iseng ngambil foto lantai depan pager rumah. Ngapain juga saya foto lantai depan pager? Karena, beginilah berkas lumut di depan pager rumah saya :

itu yg kepoto kaki saya (gak penting yah?)

berkas lumut depan pager rumah, keliatan kayak perempuan kan yah?
Seriusan, foto-foto ini sama sekali belum mampir di photoshop maupun tetangga-tetangganya. Fresh langsung saya upload perdana di sini. Berkas lumut di depan pager rumah ini menurut penglihatan saya sih mirip seorang perempuan yang lagi mendongak  ke atas. Rambutnya panjang sebahu dan pakai semacam kain gitu di atas bajunya. Gimana? Betul gak yang saya liat?
Kalau ternyata ada orang lain yang nggak percaya yah nggak apa-apa kok. Karena jujur aja, saya sendiri agak-agak palabatu kalau disuruh percaya sama sesuatu yang belum saya liat langsung atau paling nggak dari sumber yang saya percaya. Ngeselin yah? Well, I'm not looking for some enforcement for this picture actually :D. 

"Enforcement". Kalau nggak salah artinya atau maknanya adalah penguatan. Habis menulis kalimat di atas saya jadi mikir lagi, apa bener saya nggak mencari penguatan atas yang saya lihat ini? Atas gambar aneh yang terbentuk oleh lumut di depan pager tadi. Bener saya nggak cari penguatan supaya makin percaya sama hal aneh macam ini?
Mungkin tanpa sadar saya memang sedang mencari penguatan. Berharap ada yang mengatakan, "Oh iya yah pi, mirip orang itu gambarnya." atau "GILA! Ajaib bet bisa berbentuk orang begitu" atau malah "Ckckckc..rumah lu mantep banget pi, iya bener-bener mirip orang deh itu lumut, keren juga yah?"
Daaan kata-kata macem itu lah. Yang intinya mendukung, memperkuat argumen sebelumnya, dan membuat saya makin yakin sama apa yang saya percaya sebagai lumut berbentuk orang. Terus kalau saya pikir-pikir lagi, bukan cuma soal ini aja saya mencari penguatan atas argumen saya. Di banyak kesempatan rasanya saya memang mengharap ada orang yang sepakat dengan pendapat saya, setuju dengan ide-ide saya, dan seterusnya. Tapi faktanya nggak selalu seperti itu.

Saya sudah biasa dijadikan ember curhat temen-temen saya (please do not imagine me as an "ember"). Ada yang suka curhat sama saya, ada juga yang nggak. Biasanya sih temen-temen saya paling males curhat tentang "lawan jenis" kalau ke saya. Selain saya sering nggak ngerti, jawaban-jawaban saya seringnya bikin mereka pengen mencari remote TV buat nimpuk saya.
Setelah saya teliti dengan metode least square (??), saya simpulkan curhat dibagi jadi 2 macam. Ada curhat untuk kebenaran, kita singkat sebagai CUK. Dan ada curhat untuk pembenaran, kita singkat CUP. Actually, singkatan-singkatan ini gak guna juga, cuma saya sudah mulai ngantuk jadi nulisnya mulai ngaco.

Si curhat untuk kebenaran itu adalah mereka-mereka yang curhat karena merasa ada yang salah, jadi butuh pandangan orang lain untuk bantu menilai dia ini salah atau benar. Ini tipe pencurhat yang menyenangkan menurut saya, karena sama mereka-mereka ini saya bukan cuma mendengar mereka cerita, tapi mereka mau mendengar apa pun macamnya pendapat saya. Biasanya pencurhat tipe ini mengakhiri kalimatnya dengan kata-kata, "...gimana pendapat lu?"
Sedangkan si curhat untuk pembenaran adalah mereka-mereka yang curhat karena merasa benar dan butuh dukungan untuk makin yakin mereka benar. Nah tipe yang ini agak ngeselin menurut saya. Karena dia sebenarnya cuma ingin didengar tapi nggak mau mendengar, saya jadi capek kalu dengerin yang tipe-tipe kayak gini nih. Karena mereka bakal gak suka mendengar penolakan atau argumen yang kontra dengan curhatannya dia. Biasanya pencurhat tipe ini mengakhiri kalimatnya dengan kata-kata, "...iya kan? bener kan gue?"

Kadang mungkin manusia cuma ingin didengar tanpa diprotes, makanya muncul si tipe CUP (eeh kepake juga ni singkatan). Karena terkadang seseorang yang curhat itu bukan betul-betul mencari nasihat soal mana yang betul dan salah, mereka cuma mencari dukungan. Tapi di sisi lain, manusia ingin mencari kebenaran, makanya muncul si tipe CUK. Anggaplah itu sifat yang sangat manusiawi..

Jadi, apa saya menantikan penguatan atas gambar-gambar yang saya upload tadi? Atau atas status-status saya di Facebook? Atau atas tulisan-tulisan saya di blog ini?
Hmm...mungkin.
Karena bahkan untuk yakin bahwa hujan akan turun pun, langit butuh penguatan dari awan-awan mendung, hembusan angin, dan tukang odong-odong yang menutup odong-odongnya dengan terpal supaya tidak basah.



13.3.11

Gempa, Tsunami, dan Hati yang Selalu Merendah

Jepang diguncang gempa bumi lagi kemarin (11/03), kali ini bahkan termasuk yang sangat besar dengan skala 8.9 SR dan memicu Tsunami setinggi 10 meter yang lantas menelan ribuan nyawa, jutaan harta benda penduduk, dan bahkan mengancam kebocoran Reaktor Nuklir Jepang.

Sebelumnya, saya mau cerita sedikit tentang gempa dan tsunami. Kalau temen saya komentar, dia cuma bilang, "Nothings special, itu kan cuma fenomena alam, sama seperti hujan.". Secara konsep filosofis saya setuju, tapi kalau proses terjadinya tentu saja berbeda kan. Gempa bumi bisa dibedakan menjadi dua macam berdasarkan penyebabnya.

Gempa Vulkanik
Gempa vulkanik disebabkan adanya aktivitas dan pergerakan luar biasa dari magma di dalam perut bumi yang akan mendesak keluar dari sebuah gunung berapi. Dorongan dan pergerakan magma ini menyebabkan tanah-tanah disekitarnya juga ikut bergetar, maka terjadilah gempa. Dan untuk gempa vulkanik biasanya diiringi dengan letusan gunung berapi.

Gempa Tektonik
Sedangkan gempa tektonik disebabkan adanya pergeseran lempeng bumi yang kemudian saling bertumbukan. Bayangkan saja kita meletakkan potongan-potongan gabus di dalam panci berisi air. Lalu panaskan airnya hingga mendidih. Kemudian tuangkan dan sajikan selagi hangat  perhatikan, gabus-gabus itu akan bergerak ke sana kemari, saling tumbuk satu sama lain.
Prinsipnya sama. Tanah tempat kita berpijak ini adalah lempeng-lempeng "gabus" yang terletak di atas "panci" berisi inti bumi cair yang panasnya luar biasa. Dan karena ada perbedaan suhu, cairan ini pun terus bergerak sebagaimana air mendidih yang bergolak. Jadilah lempeng-lempeng di atasnya terombang-ambing. Tapi tentu saja pergerakan lempeng bumi tidak seekstrim pergerakan gabus dalam panci panas tadi.

Lalu bagaimanakah sebuah gempa bisa memicu Tsunami?
Tsunami atau gelombang besar air laut ini memang bisa dipicu oleh gempa. Karena sebenarnya ia terjadi saat ada perubahan permukaan laut secara vertikal. Dan pergeseran atau tumbukan lempeng bisa mengakibatkan perubahan permukaan laut tersebut. Kurang lebih begitu.

Kenapa Gempa dan Tsunami disebut temen saya sama saja seperti hujan? Karena pada intinya yang Allah ciptakan serba seimbang. Dan jika ada yang goyah, maka mereka akan kembali mencari keseimbangannya. Air hujan dari bumi akan kembali ke bumi, apa jadinya kalau titik-titik hujan bertahan di awan? Ketidakseimbangan, dan langit akan gelap gulita. Gempa pun begitu, hanya bentuk pencarian keseimbangan segala ciptaan Allah ini.

Jepang yang menguasai teknologi canggih sudah sangat terbiasa dengan gempa, meski rasio gempanya dalam setahun masih lebih sedikit dari Indonesia, tapi belajar dari pengalaman mereka sudah sangat terlatih dan siap sedia menghadapi gempa. Sebut saja teknologi konstruksi anti-gempa dan juga barikade anti-tsunami di sepanjang garis pantai jepang.

Tapi nyatanya Allah berkehendak lain. Saat dulu teknologi konstruksi anti-gempa baru dikembangkan oleh Jepang, beberapa tahun kemudian Allah menguji mereka dengan gempa besar. Kobe kemudian rata dengan tanah. Jalan-jalan layang yang dibangun dengan konstruksi canggih pun dipaksa rebah. Padahal sudah anti gempa.
Lalu bertahun-tahun kemudian, ada prediksi datangnya Tsunami di Jepang, ternyata Tsunami justru mampir di Indonesia. Menghujam Aceh tanpa ampun. Kemudian Jepang kembali menujukkan teknologi terbarunya, yaitu barikade anti-tsunami di sepanjang garis pantai Jepang. Dan sekali lagi, bertahun kemudian, tepatnya persis kemarin, Allah berkata lain, barikade itu hanya diam saja dihempas ombak setinggi 10 meter. Padahal sudah anti tsunami.

Menjadi pintar, cerdas, berbakat, dan berteknologi maju memang sebuah hal yang membanggakan dan perlu diusahakan. Tapi bukan berarti diusahakan harus dibangga-banggakan. Karena kalau hati ini sudah terbang tinggi, lalu yang Maha Berhak Berhati Tinggi ingin menjatuhkannya lagi ke bumi, rasanya pasti sakit sekali.

Di rumah saya, salah satu pendidikan yang tidak pernah berhenti dilakukan dari dulu sampai sekarang oleh Bapak dan Ibu saya adalah soal hati ini. Terutama penyakit yang namanya "Sombong". Bahaya sekali kata Bapak, bahkan penyakit itu yang pertama kali membuat Iblis terusir.
Jadi, di rumah saya, jangan bayangkan ada Bapak dan Ibu yang gemar memuji anaknya saat mendapat rangking pertama atau sekedar berhasil melakukan sesuatu. Tidak akan ada satu kata pun yang seperti itu. Dulu saat masih SMA, setiap kali rapor saya sodorkan pada Bapak, beliau tidak perlu melihatnya.

Bapak : Ada angka 7-nya gak?
Saya : Ada cuma satu tapi kook, cuma ekonomi aja
Bapak : Yaah gimana sih, masa ada angka 7-nya

Terserah meskipun selain angka 7 itu adalah angka 9, yang Bapak permasalahkan hanyalah si angka 7 itu. Saya sudah paham sekali gaya Bapak dan Ibu yang seperti itu, tapi suatu kali saya nggak tahan untuk nggak protes. Pengen sekedar berkeluh-kesah aja.

Saya : Bapak mah yang diliat angka 7 doang, tapi kan Fisika pipi dapet 9, pak, kenapa nggak pernah disebut-sebut?
Bapak : Kenapa harus disebut-sebut, itu kan sudah bener dapet 9, udah bener kenapa harus diprotes kan? Jadi yang angka 7 aja bapak protes.
Saya : *yeeah..i know, iseng doang pak nanya*

Rencana Bapak dan Ibu soal mengurus hati anak-anaknya ini menurut saya bagus juga sih, supaya saya nggak terbiasa sama "butuh kata2 pujian". Juga terbiasa untuk paham bahwa kesombongan hanya akan berakhir pada keterpurukan sedangkan kerendahan hati lah yang akan membawa manusia pada kemuliaan.

10.3.11

Negri-negri yang Dihancurkan Allah


Sebuah keniscayaan bahwa Allah yang Maha Menciptakan sekaligus menjadi Yang Maha Menghancurkan. Bila Allah berkehendak, maka menjadikan pulau-pulau di Indonesia hanya tinggal serpihan debu adalah hal yang sangat mudah. Allah hanya perlu “memerintahkan” seluruh gunung berapi di Indonesia untuk memuntahkan isi perut bumi, kemudian “memanggil” awan-awan hujan untuk membanjiri pelosok negeri hingga bahkan orang paling tinggi di Indonesia pun kesulitan menjejakkan kaki di tanah. Dan jika itu masih belum cukup untuk menghancurkan seluruh negri ini, Allah cukup tambahkan saja petir menyambar ke bumi yang terendam banjir, maka listrik statis jutaan volt akan dengan cepat membunuh sel-sel otak manusia.

Menyeramkan? Memang. Tidak ada yang mengatakan bahwa kehancuran itu suatu hal yang menyenangkan. Tapi perlu diingat bahwa Allah Maha Penyayang, sehingga tidak akan mungkin Dia meninggalkan hambaNya tanpa sebuah pedoman untuk dipelajari dan seorang Rasul sebagai panutan. Di dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan kita banyak hal mengenai negri-negri yang dihancurkan. Misalnya saja negri-negri kaum Nabi Huud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, dan Nabi Syu’aib.

Kaum Nabi Huud

(١٢٩) تَخۡلُدُونَ لَعَلَّكُمۡمَصَانِعَ وَتَتَّخِذُونَ (١٢٨) تَعۡبَثُونَ ءَايَةً۬رِيعٍ بِكُلِّ أَتَبۡنُونَ

Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, (128) dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? (129). (QS: Asy Syu’araa)

Kaum Aad hidup di daerah yang makmur dan subur. Allah mencurahkan banyak sekali nikmat bagi mereka. Hewan-hewan ternak berkembang biak, kebun-kebun selalu produktif, dan sumber-sumber mata air tak ada habis-habisnya. Sebuah gambaran negri dengan sumber daya alam yang luar biasa, itulah daerah yang ditinggali oleh Kaum Aad.

Tapi kemudian lahan-lahan subur serta kebun-kebun yang selalu produktif itu mereka hancurkan. Ide lain melintas di pikiran mereka, bahwa lahan-lahan itu bisa menjadi tempat mendirikan bangunan-bangunan tinggi. Tak hanya satu atau dua, Kaum Aad mengubah sebagian besar lahan-lahan subur mereka menjadi bangunan-bangunan tinggi tempat mereka menghabiskan waktu bersenang-senang seolah waktu tidak ada habisnya.

Maka Allah mengutus Nabi Huud untuk memberi mereka peringatan, mengajak untuk taat pada Allah dan nabiNya, namun mereka hanya berkata, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab” (QS: Asy-Syu’ara, 133-134). Namun itu menurut kaum Aad, sedangkan Allah berkehendak lain. Badai pasir menggulung habis kaum Aad bahkan hingga bangunan-bangunan tinggi yang mereka dirikan tidak terlihat lagi jejak-jejaknya.

(١٣٩)‌مُّؤۡمِنِينَ مأَكۡثَرُهُ كَانَ وَمَا ‌ۖ لَأَيَةً۬ذَٲلِكَ ىفِ إِنَّ ‌ۗ هۡلَكۡنَـٰهُمۡ فَأَ فَكَذَّبُوهُ

Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (QS: Asy Syu’ara)

Kaum Nabi Shaleh

طَلۡعُهَا وَنَخۡلٍ۬ وَزُرُوعٍ۬ (١٤٧) وَعُيُونٍ۬ جَنَّـٰتٍ۬ فِى (١٤٦)ءَامِنِينَ هَـٰهُنَآ مَا فِى أَتُتۡرَكُونَ

(١٤٩) فَـٰرِهِينَ بُيُوتً۬ا ٱلۡجِبَالِ مِنَ وَتَنۡحِتُونَ (١٤٨) هَضِيمٌ۬

Adakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman, (146) di dalam kebun-kebun serta mata air, (147) dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut (148) Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin (149) (QS: Asy Syu’ara)

Nabi Shaleh diutus di antara kaum Tsamud, kaum yang tersohor karena kepintaran dan teknologinya. Pengetahuan mereka mengenai pertanian dan perkebunan menjadikan kebun-kebun mereka tumbuh subur, pohon-pohon kurma berbuah secara rutin, dan mata air dimanfaatkan seefektif mungkin di zaman itu. Bahkan dengan teknologinya, kaum Tsamud memahat gunung-gunung, menjadikannya rumah-rumah rekreasi dan peristirahatan bagi mereka.

Lalu Allah kemudian mengutus seorang nabi bernama Shaleh, yang datang bukan dari bagian para ilmuwan ahli teknologi, atau pun insinyur ahli pertanian kaum Tsamud. Maka jadilah Nabi Shaleh beserta risalahnya dipandang sebelah mata oleh kaum Tsamud, mereka menolak ajakan untuk taat pada Allah serta Nabi Shaleh. Bagaimana mungkin ahli teknologi dan insinyur pertanian yang jauh lebih pintar dari Nabi Shaleh akan mendengarkan ajakan seperti itu? Kepintaran dan keahliannya menciptakan teknologi-teknologi baru menulikan kaum Tsamud dari dakwah Nabi Shaleh sehingga Allah menguji mereka dengan seekor unta betina.

Semakin menjadi-jadi mengacuhkan peringatan Nabi Shaleh, kaum Tsamud justru membunuh unta betina itu. Maka turunlah azab Allah berturut-turut yang menghabisi kaum Tsamud.

‌ۗ فِيہَآ غۡنَوۡاْ لَّمۡكَأَن (٦٧) جَـٰثِمِينَ دِيَـٰرِهِمۡ فِى فَأَصۡبَحُواْ ٱلصَّيۡحَةُاْظَلَمُو ٱلَّذِينَ وَأَخَذَ

(٦٨) لِّثَمُودَ بُعۡدً۬ا أَلَا رَبَّہُمۡڪَفَرُواْ ثَمُودَاْ إِنَّ أَلَآ

Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya (67) seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlan bagi kaum Tsamud. (68) (QS: Huud)

Kaum Nabi Luth

(٨٠) ٱلۡعَـٰلَمِينَ مِّنَ أَحَدٍ۬ مِنۡبِہَا سَبَقَكُم مَا ٱلۡفَـٰحِشَةَ أَتَأۡتُونَ لِقَوۡمِهِۦۤ قَالَ إِذۡ وَلُوطًا

(٨١) مُّسۡرِفُونَ قَوۡمٌ۬أَنتُمۡبَلۡ ‌ۚ ءِٱلنِّسَآدُونِ مِّن شَہۡوَةً۬ ٱلرِّجَالَ لَتَأۡتُونَ إِنَّڪُمۡ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? (80) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS: A; A’raaf: 80-81)

Tidak seperti kaum Tsamud atau pun kaum Aad yang berkaitan dengan alam lingkungan hidupnya, kaum Sodom dimana diutusnya Nabi Luth justru mendustakan tatanan rumah tangga yang sudah Allah atur. Sebagian besar kaum Sodom menerapkan gaya hidup Homoseksual. Mereka meninggalkan wanita-wanita yang Allah telah ciptakan sebagai pasangan hidup para lelaki, dan justru memilih untuk berhubungan dengan sesama lelaki.

Ketika Nabi Luth memperingatkan mereka dan mengingatkan bagaimana seharusnya tatanan rumah tangga yang diatur oleh Allah, kaum Sodom justru mengusir Nabi Luth dan menganggapnya serta pengikut-pengikutnya sebagai orang yang sok suci karena tidak mengikuti gaya hidup homoseksual mereka. Maka ketika datang azab Allah, mereka tidak bisa lagi berkata-kata. Kaum Sodom habis dihujani batu-batu dari tanah yang terbakar.

(٨٢)مَّنضُودٍ۬سِجِّيلٍ۬ مِّن حِجَارَةً۬عَلَيۡهَا وَأَمۡطَرۡنَا سَافِلَهَا عَـٰلِيَهَا جَعَلۡنَا أَمۡرُنَا جَآءَ فَلَمَّا

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (82) (QS: Huud)

Kaum Nabi Syuaib

فِى تَعۡثَوۡاْ وَلَا أَشۡيَآءَهُمۡٱلنَّاسَ تَبۡخَسُواْ وَلَا بِٱلۡقِسۡطِ‌ۖ وَٱلۡمِيزَانَ ٱلۡمِڪۡيَالَ وۡفُواْأَ وَيَـٰقَوۡمِ

(٨٥)مُفۡسِدِينَ ٱلۡأَرۡضِ

Dan Syuaib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (85) (QS: Huud)

Nabi Syuaib diutus pada kaum Madyan. Kaum ini tidak mengeksploitasi hasil bumi, tidak juga menganggap kepintaran mereka segala-galanya, atau pun merusak tatanan rumah tangga. Kaum Madya justru merusak tatanan perekonomian dalam masyarakat. Mereka mencurangi timbangan, membuat rugi manusia lainnya, dan merampas sebagian hak-hak manusia lainnya dalam perekonomian. Sebagian besar kaum Madya gemar mengumpulkan harta, maka apabila berdagang mereka mencurangi timbangan agar mendapatkan keuntungan yang lebih lagi sehingga hartanya pun semakin banyak.

Nabi Syuaib kemudian datang sebagai pemberi peringatan, mengingatkan bahwa sesungguhnya keuntungan di sisi Allah jauh lebih baik dari keuntungan yang didapat dari hasil mencurangi timbangan. Nabi Syuaib mengajak mereka untuk taat pada Allah dan padanya. Namun kaum Madya yang terlanjur buta oleh harta justru mendustakan apa yang disampaikan Nabi Syuaib. Menurut mereka ini adalah harta mereka, jadi apa yang mereka lakukan pada harta tersebut adalah haknya.

Nabi Syuaib bahkan telah mengingatkan mereka tentang apa yang terjadi atas orang-orang sebelum mereka yang Allah hancurkan negrinya tanpa sisa karena mendustakan apa yang disampaikan oleh Nabi dan RasulNya. Tapi kaum Madyan tidak peduli pada apa yang disampaikan Nabi Syuaib, maka ketika datang awan-awan gelap dan mereka pikir musim penghujan telah tiba, justru azab Allah-lah yang datang. Suara yang mengguntur mengiringi angin kencang luar biasa yang menghabisi kaum Madyan.

ظَلَمُواْ ٱلَّذِينَ وَأَخَذَتِ مِّنَّا ۥ بِرَحۡمَةٍ۬ مَعَهُ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ شُعَيۡبً۬ا نَجَّيۡنَا أَمۡرُنَا جَآءَ وَلَمَّا

(٩٤) جَـٰثِمِينَ فِى دِيَـٰرِهِمۡفَأَصۡبَحُواْ ٱلصَّيۡحَةُ

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. (94) (QS: Huud)

Demikian sedikit kajian singkat dari pelajaran yang Allah sampaikan pada kita mengenai negri-negri yang Allah hancurkan karena mendustakan ayat-ayatNya. Maka sekarang saatnya bercermin mengenai negri kita sendiri, Indonesia.

Adakah yang seperti kaum Aad? Yang berlebihan menghancurkan lahan-lahan produktif yang memegang peranan penting bagi kesejahteraan masyarakat untuk kemudian mengubahnya menjadi aset-aset yang hanya menguntungkan perutnya sendiri. Mengubahnya menjadi bangunan-bangunan tinggi yang digunakan untuk bersenang-senang hingga lupa diri, lupa waktu, dan lupa Allah.

Data terbaru dari Kemenhut menunjukkan bahwa walaupun berkurang, laju kehilangan hutan masih mencapai 0,8 juta hektare per tahunnya, dari tahun 2006 ke 2008. Sedangkan hutan yang rusak terhitung seluas 59,7 juta hektare sampai tahun 2002. (Fitrian Ardiansyah – ANTARA). Hutan-hutan ini dirusak tanpa memperhatikan bagaimana menjaga keseimbangan alam, lalu kemudian juga hasil dari penjualan kayu-kayu dan hasil hutan ini hanya dinikmati sebagian pihak, itu pun masih rentan dihadang korupsi karena kepastian hukum yang juga kurang mendukung.

Adakah yang seperti kaum Tsamud? Yang begitu membanggakan kecerdasannya, begitu menuhankan pemikirannya, sampai-sampai rasanya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh otaknya sendiri tanpa mengharap bantuan Allah. Kecerdasan, kepintaran, teknologi menjadikan kesombongan memenuhi telinga mereka sehingga tidak ada lagi tempat masuk bagi nasihat-nasihat kebaikan.

Nyatanya orang-orang yang menyombongkan diri hanya karena memiliki level pendidikan yang tinggi atau menguasai suatu teknologi tertentu ada saja yang merasa tidak perlu menerima nasihat-nasihat kebaikan, merasa cukup mengandalkan diri dan otaknya. Lupa pada siapa yang menciptakan diri dan otak untuk berpikir tersebut. Padahal mestinya mereka menengok pada Prof. Dr. BJ Habibie yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka meski teknologi pesawat terbang telah dia kuasai.

Lalu adakah yang seperti kaum Sodom? Yang menyimpang dari fitrah Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan satu sama lain, kemudian mereka lebih memilih menuruti hawa nafsunya sendiri dan dengan bangga mengusung bendera Homoseksual dan Lesbian.

Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. Dari jumlah ini, sebagian dalam jumlah bermakna terus melakukannya. (Kompas Cyber Media, 2003) Hasil survei YPKN menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar. Dede memperkirakan, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia. Dr. Dede Oetomo, adalah "presiden" gay Indonesia, yang telah 18 tahun mengarungi hidup bersama dengan pasangan homonya, beliau juga seorang "pentolan" Yayasan Gaya Nusantara. (Gatra, 2003)

Dan terakhir, adakah yang seperti kaum Madyan? Yang mengurangi timbangan, yang mengambil sebagian hak-hak orang lain untuk memperkaya dirinya sendiri. Dalam bahasa kekinian, hal-hal seperti ini disebut tindakan korupsi. Dan prestasi korupsi Indonesia sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Bukan saja dalam bidang perdagangan, tapi semua bidang di Indonesia mungkin telah tersentuh tindak korupsi. Mulai dari pendidikan sampai ke hukum. Dari perpajakan sampai ongkos naik haji.

Angka tingkat korupsi Indonesia semakin meningkat ditahun 2009 dibanding tahun 2008. Pada tahun 2009, Indonesia ‘berhasil’ menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara surveilances dari PERC 2009. Indonesia mendapat nilai korupsi 8.32 disusul Thailand (7.63), Kamboja (7,25), India (7,21) and Vietnam (7,11), Filipina (7,0). Sementara Singapura (1,07) , Hongkong (1,89), dan Australia (2,4) menempati tiga besar negara terbersih, meskipun ada dugaan kecurangan sektor privat. Sementara Amerika Serikat menempati urutan keempat dengan skor 2,89. Jadi, dari data PERC 2010, maka dalam kurun 2008-2010, peringkat korupsi Indonesia meningkat dari 7.98 (2008.), 8.32 (2009) dan naik menjadi 9.07 (2010) dibanding dengan 16 negara Asia Pasifik lainnya. “Prestasi” dashyat ini bukanlah hal yang mengejutkan, karena bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi M Mahfud MD dalam diskusi ‘Akar-akar Mafia Peradilan di Indonesia (18 Feb 2010) mengatakan bahwa , “Hampir semua pejabat itu korupsi,”. (NusantaraNews)

Pertanyaannya sekarang adalah, Mengapa hal-hal yang sejalan dengan yang dialami kaum-kaum terdahulu itu masih terjadi di Indonesia, di negara yang notabene dihuni mayoritas kaum Muslim? Padahal kaum Muslim ini pun melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar zakat, bahkan jamaah Haji asal Indonesia melimpah ruah setiap kali musim Haji.

Sewajarnya diperhatikan juga dari kisah-kisah yang Allah sampaikan di Al Qur’an, mengenai negri-negri yang Allah hancurkan tanpa jejak. Allah tidak pernah mengatakan menurunkan azab pada kaum-kaum terdahulu itu karena mereka tidak melaksanakan sholat, atau karena tidak berpuasa, apalagi membayar zakat. Allah berfirman, “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS: Huud : 102)

Karena sesungguhnya bukan berapa banyak sholat yang kita laksanakan, tapi justru seberapa banyak sholat mempengaruhi hidup kita. Sejatinya sholat adalah pendidikan yang sifatnya kontinyu, yang mendidik kita untuk tidak mendustakan ayat-ayat Allah, tidak zalim pada lingkungan, sesama manusia, maupun kepada diri sendiri.

Sudah kita lihat sendiri bagaimana komparasi kondisi negri ini dibandingkan negri-negri yang pernah Allah hancurkan dahulu kala, lalu apa yang bisa kita lakukan? Berteriak-teriak di depan gedung DPR rasanya tidak membantu banyak. Meminjam istilah Bapak AM Fatwa, setidaknya kita bisa menjadi moral force bagi lingkungan kita. Dimulai dari memperbaiki kualitas sholat kita, kualitas pendidikan kontinyu kita itu, sehingga berakibat pada kualitas hidup yang lebih baik juga. Yang kemudian akan menular pada lingkungan kita dan seterusnya. Seperti efek domino yang akan menunjukkan pola-pola indah dari hanya satu sentuhan kecil.

Belajar dari kaum Tsamud yang menuhankan pemikirannya, maka tidak lupa kita senantiasa memohon pertolongan pada Allah, karena secerdas dan sekeras apa pun cara kita membuat perubahan, tetap Allah yang akan menolong kita. Dengan begini lambat laun tidak akan lagi ada refleksi-refleksi kaum Aad, Tsamud, Sodom, dan Madyan di wajah Indonesia kita. Insya Allah.