9.10.15
Ada yang Romantis!
Pertama, tulisannya yang bagus, pi, biar orang mudah bacanya.
Kedua, setiap nulis selalu diawali dengan nulis bismillah, yah nak.
Hasilnya hingga saat ini tulisan tangan saya termasuk kategori mudah-terbaca, sementara tulisan tangan saya untuk huruf Arab termasuk kategori maap-inih-tulisan-apa-gambar-yah. Kecuali untuk kalimat bismillahirrahmanirrahim.
Rutin menuliskan kalimat itu di bagian atas semua tulisan ternyata punya dampak positif dan negatif buat saya. Positifnya, tulisan huruf Arab saya semakin lancar dan terbaca. Negatifnya, saya menganggapnya jadi sekedar kebiasaan dan nyaris melupakan maknanya.
| Yaah..gak bagus-bagus amat, sih, tapi kebaca, kan? hehe.. |
Tapi, yah, kalau Allah ingin mengingatkan hamba-Nya mah ada ajah jalannya.
Seperti hari ini.
Dari kemarin saya sedang mengikuti penjelasan Nouman Ali Khan tentang surat Al-Fathihah, setelah satu jam lebih membahas ayat pertama, beliau akhirnya sampai di ayat ar rahman ar rahim. Dalam bahasa Indonesia diartikan Maha Pengasih Maha Penyayang. Tapi ternyata setelah mendengar penjelasan beliau, kata "kasih" dan "sayang" jadi terdengar kurang lengkap menggambarkan nama Allah arrahman arrahim.
"Kasih" dan "sayang" punya makna yang mirip, bahkan lebih sering dijadikan satu frasa "kasih sayang". Intinya menggambarkan sebuah perasaan suka, cinta, perhatian, dan murah hati. Padahal makna arrahman arrahim jaaauuuuh lebih indah dari itu. Saya akan coba sampaikan kembali apa yang dibahas sama Nouman Ali Khan, yah, mudah-mudahan bisa tetap sampai maknanya.
Kata arrahman dan arrahim sama-sama berakar dari bahasa Arab rahm yang dalam bahasa Inggris diartikan intense love, care, concern, and mercy, mungkin kurang lebih sama dengan kasih sayang. Meski berasal dari kata yang sama, tapi arrahman dan arrahim adalah dua bentuk kata yang berbeda dan memiliki makna yang berbeda juga.
Bentuk kata arrahman, menjadikan makna katanya memiliki 3 kualitas:
1. Extreme atau melebihi ekspetasi
2. Terjadi saat ini
3. Bersifat sementara (bisa menghilang karena sesuatu hal yang kita lakukan)
Jadi, arrahman bisa digambarkan bahwa, iyah Allah saat ini sedang mencintai kita, cintanya luar biasa banyaknya kepada kita bahkan melebihi ekspetasi. Cintaaa bangeeet pokoknya! Tapi kalau kita melanggar perintah-Nya maka kasih sayang itu bisa menghilang dari kita.
Sekarang kata arrahim. Bentuk katanya punya 2 kualitas:
1. Bersifat permanen
2. Tidak harus sekarang. Atau berlaku jangka panjang
Jadi, arrahim bisa digambarkan begini, Allah itu sayang sama kita. Allah cinta sama kita. Tapi nggak harus sekarang kok ditunjukkinnya, pokoknya seterusnya selamanya Allah sayang dan cinta sama kita, meski sekarang gak keliatan kasih sayangnya.
Lalu kenapa dua kata itu harus beriringan?
Karena Allah mau ngasih tau kita, Ia tidak hanya mencintai kita saat ini saja, tapi selamanya Allah memang Maha Mencintai.
Kenapa arrahman dulu baru arrahim?
Misalnya begini, Ibu saya jago masak. Semua masakannya selalu enak-enak. Lalu suatu hari, saya pulang kerja dan laper banget. Di rumah, si Ibu udah masak sayur asem sama ikan asin. Tapi bukannya ngebolehin saya makan masakannya yang enak itu, ibu malah nanya, "Besok mau makan apa, pi?".
Kan sebel yah. Apalagi buat orang yang kalau laper jadi galak.
Yang saya butuhkan ketika laper adalah makan saat ini juga. Baru nantinya setelah selesai makan, kalau ibu saya tanya, "Besok mau makan apa?", saya baru siap ngerespons dengan tepat, "Hmm..gurame bakar?" -aduh ngiler- gitu misalnya. Intinya, kita nggak akan mikir mau makan apa besok sebelum kita selesai makan hari ini.
Kita akan mulai memikirkan masa depan apabila masa kini kita telah selesai diurus dengan baik. Kurang lebih itu pesannya.
Begitula Allah menyandingkan arrahman arrahim. Seolah-olah Allah mau bilang, "Aku mencintaimu saat ini, dengan luar biasa cinta, dan jangan khawatir, Aku juga Sang Maha Cinta yang akan mencintamu selamanya."
Pantas saja kalimat bismillahirrahmanirrahim selalu harus diucapkan di awal setiap kegiatan kita. Supaya kita ingat bahwa saat ini Allah mengurus kita dengan penuh cinta, dan Allah pula yang akan mengurus masa depan kita karena Ia mencintai kita. Lantas mau bersedih karena apa lagi?
Tiba-tiba kata arrahman arrahim jadi terdengar begitu romantis buat saya. Bukan sekedar bagian dari rutinitas yang ditulis, kata yang diucap, atau bacaan wajib dalam sholat, tapi sebuah ungkapan cinta yang luar biasa dari Tuhan untuk hamba-Nya.
Allah romantis banget, yah? :)
6.10.15
Berkaca Lewat Cerita
Malem ini ada seorang teman yang cerita soal masalahnya, dia butuh pendapat dan masukan, sukur-sukur sayah bisa bantu mikirin solusi. Untung masalahnya bukan tentang pengaruh harga dollar terhadap keseharian karyawan wanita di Jakarta. Justru lebih rumit dari ituh. Tapi saya gak akan membahas masalah itu di sini. Selain karena ituh mengumbar aib orang lain, juga karena gak akan ada sutradara yang tertarik bikin FTV berdasarkan kisah temen saya ituh kok.
Intinya, selama 30 menit kemudian temen saya mulai cerita panjang lebar via chat di whatsapp. Saya sesekali menimpali dengan komentar singkat seperti, terus? oh gitu? hehe. Tapi semakin dibaca, cerita temen saya tadi terlihat semakin real. Saya seperti sedang jadi tokoh juga di cerita itu. Dan akhirnya saya bener-bener berkomentar dalam hati, Hey! Inih masalah yang gw hadapin juga!
Ini seperti berkendara di jalanan yang sama dengan banyak orang. Kita melihat motor atau mobil di depan, kanan, atau kiri kita, kemudian berkomentar,
Ah, motor di depan itu ban-nya kurang angin!
Mobil yang itu pintu belakangnya kurang rapet tuh!
Lah, itu ibu-ibu belok ke kiri tapi malah nyalain lampu sein ke kanan?!
Padahal, mungkin ban motor kita pun kurang angin, lampu sein lupa dimatikan, atau helm kebalik. Tapi kita nggak ngeh semua hal itu sedang terjadi juga di diri kita.
| Mungkin memang lebih mudah melihat masalah orang lain lebih dulu dibanding masalah kita sendiri, yah? |
Hal seperti itu benar-benar bisa terjadi, kok. Saya pernah lupa menaikkan standar motor saat nyetir. Nggak lama kemudian saya liat seorang bapak yang lupa menaikkan standar motornya, saya buru-buru ngecek standar motor saya juga. Dan ternyata bener. Akhirnya saya naikkan standar motor dan klakson si bapak-bapak tadi untuk ngingetin hal yang sama.
Jadi, mungkin yah, mungkiiin, Allah memang ingin saya sadar bahwa saya sedang dalam masalah. Langkah awal keluar dari masalah adalah sadar sepenuhnya bahwa -well- kita sedang dalam masalah! Dan uniknya, Allah mengingatkan saya melalui cerita temen saya tadi.
Temen saya mungkin enggak tau bahwa saya sedang mengalami masalah yang sama. Tapi kan Allah tau. Apa susahnya bagi Allah mempertemukan kami dalam cerita?
Setelah temen saya tuntas cerita, saya jadi bisa melihat masalah dengan lebih logis.
Sama seperti kasus melihat ban motor orang lain yang kempes, tentunya dengan mudah kita akan langsung berpikir bahwa solusinya adalah pergi ke tukang tambal ban. Tapi coba kalau ban motor kita yang kempes. Kita sibuk berprasangka dulu, inih beneran kempes atau perasaan gw doang yah? kayaknya sih kempes. Coba diteken dulu deh. Seginih kempes gak yah?. Dan malah menunda menjalankan solusinya.
Akhirnya saya coba kasih masukan untuk temen saya tadi, kasih pendapat, dan bahkan sempat berusaha memberi solusi juga. Tapi yang temen saya gak tau adalah saya sedang bicara dengan diri saya sendiri. This is my problem too! But now I see it in a different light. A brighter one. (Duh tetiba banyak ninja sedang ngupas bawang merah di kamar sayah. Tissu mana? Tissuu?)
Pada bagian akhir, temen saya mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati mendengarkan ceritanya. Saya pun mengucapkan terima kasih karena sudah berbaik hati membantu saya berkaca lewat ceritanya.
Mungkin ini salah satu penafsiran yang tepat untuk salah satu kalam Allah, bahwa saat kita berbuat baik untuk saudara kita, sesungguhnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri. Inshaa Allah.
26.9.15
Bukan Dicari tapi Dijemput.
Karena?
Well, those foods look ENAK BANGET!
Si Bapak sampai heran dan berulang kali nanya hal yang sama setiap kali saya sedang nonton acara masak tersebut. Suatu kali, setelah cukup lama duduk dan mencoba melihat sisi menarik dari acara favorit saya, si Bapak nyerah.
Bapak: Apa serunya, sih, pi?
Pipi: Seruuu, paak! Itu mereka harus masak yang unik dan enak, terus waktunya terbatas.
Bapak: Ah, biasa aja.
Pipi: Tuh, tuh, pak, keliatannya enak banget, tapi ternyata kata jurinya kurang enak.
Ibu: Pipi! Mending kamu sini ngaduk santen di kompor! Nonton acara masak tapi kagak bantuin masak!
Yah, intinyah, kata bapak, acara favorit saya gak ada bagus-bagusnya.
Dan kata ibu..yah..begituhlah, hahaha!
Setelah ngaduk santen, ternyata remote TV udah lagi dalam kuasa si Bapak. Ketahuilah, acara favorit si Bapak adalah semacam Animal Planet, Wild Life, atau apapun yang melibatkan adegan binatang sedang hidup normal gitu. Apa serunya coba?
Berhubung tadi si Bapak udah mencoba memahami sisi menarik acara favorit saya, jadi sekarang gantian. Akhirnya saya duduk di sebelah bapak, nonton ikan salmon berenang sambil tetap ngecek acara selanjutnya apa dan kapan acara ini habis.
Ikan salmon yang sudah dewasa dan telah berenang ke hilir harus kembali ke hulu untuk bereproduksi di sana. Nah, perjalanan hilir ke hulu inih lumayan sulit, bahkan sampai harus melompati air terjun kecil. Lompatnya dari bawah ke atas gitu lagih, bukan dari atas ke bawah. Kalu dari atas ke bawah saya juga bisa, tapi jangan deh, khawatir airnyah tumpah semuah. Back to the Salmon, pas lagi nonton ikan salmon melompat dari bawah air terjun kecil ke bagian atas air terjun ini lah saya melihat hal yang amazing!
Di atas air terjun, ada beberapa ekor beruang. Mereka predator bagi ikan salmon. Sebagian dari mereka sibuk menyibak-nyibak air sungai untuk menangkap ikan salmon, tapi sebagian lainnya hanya cukup membuka mulut maka ikan salmon yang melompat dari bagian bawah air terjun akan langsung masuk ke mulut mereka! Keren!
Coba bayangin kalau kita lapar dan tinggal buka mulut, terus makanan berterbangan masuk. Ayam goreng, cokelat, kue keju, sate ayam..eh sate ayam jangan deh, serem juga sih kalu sate ayam terbang masuk ke mulut. Ituh tusukannya kan agak-agak mengancam kesehatan tenggorokan, yah. Intinyaaah, that flying food is cool!
Adegan beruang makan salmon itu lah yang membuat saya berubah pikiran tentang acara favoritnya si Bapak. Karena saya jadi inget konsep "menjemput rezeki" yang sering dibahas Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya di radio.
Beberapa orang akan bilang "mencari rezeki" tapi nyatanya rezeki-lah yang menemukan kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjemputnya dengan cara yang baik dan niat yang benar. Jadi akan lebih tepat kalau disebut "menjemput rezeki" dibandingkan dengan "mencari rezeki".
Saat mencari sesuatu, misalnya mencari penghapus yang hilang waktu jaman sekolah. Kita akan sibuk keliling mengecek kotak pensil teman, kolong meja, pot taneman bu guru, keranjang gorengan di kantin, bahkan nanya sama temen-temen, Eh liat pengapus gw gak? Sementara si penghapus mah diem ajah menunggu kita temukan di kantong baju sendiri.
Orang yang sedang mencari akan lebih banyak bergerak dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada hal yang dicarinya. Rezeki pun sama, dia lah yang menemukan kita!
Tapi, kan, saya kerja jauh, 30 km dari rumah, musti kena macet, kerjaannya banyak, terus nunggu tanggal 25 dulu! Usaha saya lebih banyak dari usaha rezeki menghampiri saya, makanya saya mencari si rezeki.
Pertama, rezeki bukan melulu berarti uang.
Kedua, kata siapa usaha kita mendekat pada rezeki lebih besar dari usaha rezeki mendekat pada kita?
Saat haus di rumah?
Kita cukup berjalan dari kamar ke dapur. Mengambil gelas. Pencet dispenser. Minum.
Saat haus di jalan?
Cukup mampir di warung. Keluar uang 1000 rupiah. Tusuk sedotan. Minum.
Saat haus di kolam renang?
Tenang, sayah gak doyan minum aer kolam.
Coba kita bandingkan dengan perjalanan si air minum untuk sampai ke perut kita. Entah dari mata air pegunungan mana, sudah mengalir berapa jauh, kemudian dijernihkan oleh orang yang kita pun enggak kenal, dikemas oleh orang yang sama juga kita enggak kenal, dibawa oleh supir-supir yang kita nggak berusaha pengen kenal juga, terus sampai ke rak jualan Ind*mart, kita beli, kita minum.
Perjalanan rezeki kita begitu jaaauuuuh kalau dibandingkan perjalanan dan usaha kita untuk menjemputnya. Maka yang perlu kita lakukan adalah memaksimalkan usaha dan meluruskan niat. Bukan sibuk "mencari rezeki" sampai melupakan Yang Memberi Rezeki. Yakinlah, rezeki akan menemukanmu :)
Mirip dengan si beruang tadi, ada yang sibuk menyiduk ikan salmon dari air dan ada juga yang hanya membuka mulut lalu ikan salmon akan beterbangan masuk ke mulut mereka. Mungkin beruang hanya perlu berjalan sedikit ke air, tapi ikan salmon yang jadi makanan beruang sudah berenang jauuuh sekali untuk berakhir di perut si beruang. Tidak meleset satu ekor pun kalau memang takdirnyah menjadi makanan beruang.
Apapun usaha terbaik yang kita lakukan, Allah tidak akan meleset mengantarkan rezeki kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki. Inshaa Allah..
Yaah, jadinya saya nonton acara itu sampai habis sama si Bapak.
Ternyata, lebih keren acara favoritnya si Bapak, euy! :p
ps:
Eh, jodoh juga rezeki, kan yah? Hehehe..
14.9.15
What's inside the "Inside Out"
Dari sejak lihat trailer-nya di bioskop maupun di internet, film Inside Out udah sayah 'tandain' sebagai fim wajib nonton. Karena selain -well it's Disney's and Pixar's!- animasi, katanyah Inside Out yang bercerita tentang bagaimana emosi bekerja dalam pikiran manusia, bener-bener serius menggarap film ini sampai melibatkan para ahli psikologis. Sounds promising, isn't it?
Setelah beberapa kali gagal nonton bareng sama temen-temen kantor, akhirnya minggu lalu saya jadi juga nonton film inih bareng ade dan keponakan (fyi, ade sayah tidur sepanjang film dan keponakan sayah sibuk makan berondong jagung). Anyway, yang penting nonton! Hooraaaay!
Sayah infokan sebelumnya, kelanjutan tulisan inih akan ada sedikit spoiler film Inside Out, jadi buat kalian yang pengen nonton tapi belum sempet, mending jangan baca, deh. Nanti kalu sebel trus ngambek dan minta beli balon kan repot. I warned ya'..
Jaaadiii..
Di Inside Out, kita akan kenalan sama para Emosi!
Ada joy, sad, disgust, fear, dan anger. Berhubung karakter utama di film itu adalah Riley, anak umur 11 tahun, jadi yang pegang kendali terbesar sejak lahir hingga umur 11 tahun adalah joy. Jelas yah? Anak-anak identik dengan keceriaan dan kebahagiaan.
Dengan dipimpin oleh joy, semua emosi lainnya bekerja sama untuk membuat hidup Riley bahagia setiap saat. Kecuali sad. Dari awal film, sad udah di 'kucilkan', dianggep ngeganggu, dan nggak ada gunanya. Surprisingly, sayah kebawa sama film itu, hehehe, sempet mikir, "Inih apah deh si sad ngerusak ajah, ngapain sih ada si sad?"
Ternyata sayah ikutan bertanya: untuk apa ada kesedihan? kenapa nggak ciptain kebahagiaan ajah?
Sayah nggak akan cerita bagaimana akhirnya kesedihan punya perannya sendiri dalam membuat hidup manusia bahagia seperti di film Inside Out. Tapi yang saya mau cerita adalah if pursuit a happiness is meant to be human life goal, then why Allah bother making another emotion which the opposite of happiness? Sedangkan apapun yang Allah ciptakan tidak mungkin sia-sia.
Sampai keluar dari bioskop, saya masih hanya larut dengan konklusi yang dibuat oleh penulis cerita film Inside Out, bahwa untuk bisa bahagia, kamu perlu mengenal kesedihan. Tapi kemudian esoknya, Allah ingin suatu ilmu sampai ke saya, jadi dibuatNya temen saya di kantor mendengarkan ceramah, dan menyampaikan ceramah ituh ke saya. Sungguh itu bukan kebetulan.
Temen saya cerita tentang kajian di channel youtube Bayyinah Institute oleh Nouman Ali, tentang apa sebenernya yang diusahakan manusia, what are you pursuing in life? Akhirnya saya nonton video berdurasi sekitar 40 menit tersebut, dan langsung merasa malu dengan pemikiran saya sehari sebelumnya.
Ternyata bukan kebahagiaan lah yang manusia cari, bukan si joy yang harus menguasai kendali emosi manusia untuk bisa membuatnya bahagia, dan bukan dengan menghilangkan si sad lantas manusia baru bisa bahagia. Ternyata bukan semua itu.
Nouman Ali cerita, bahwa untuk bahagia itu mudah. Semudah menunda bangun tidur beberapa menit hanya untuk berbahagia tidur nyaman lebih lama di kasur empuk. Namun kebahagiaan seperti itu sifatnya sementara, beberapa saat kemudian kita akan merasa bersalah, panik, dan tidak bahagia.
Sebenernya Nouman Ali cerita banyak hal tentang apa saja yang dicari manusia dalam hidupnya di video tersebut, tapi yang ingin saya garis bawahi adalah manusia bukan diminta untuk mencari kebahagiaan, melainkan mencari ketenangan dan ketentraman.
Ah iyah! Sayah jadi ingat salah satu ayat di Al-Quran:
"...Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."
(QS Ar Ra'du ayat 28)
Bukan berarti untuk mencari ketentraman kita jadi tidak bahagia, bukan seperti itu. Justru ketika mengingat Allah yang menentramkan hati, inshaa Allah kebahagiaan akan ikut hadir. Dan bukan sekedar bahagia seperti mendapat hadiah kuis tebak lagu, tapi kebahagiaan karena rasa syukur dan sabar dalam menjalani semua episode hidup.
Joy, sad, anger, disgust, dan fear bukanlah sosok-sosok yang harus kita beri makan hingga tumbuh besar dan mengendalikan diri kita. Joy tidak selalu harus menjadi paling dominan, fear-anger-disgust bukan sekedar pendukung bagi joy, dan sad bukanlah emosi yang harus dikucilkan. Justru mereka adalah kendaraan kita untuk senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun.
Bersyukur ketika senang, bersabar ketika sedih, mohon ampun ketika marah, rendah hati ketika melihat sesuatu yang kurang kita sukai, dan mohon perlindungan ketika ketakutan. See? Semua emosi akan jadi kendaraan yang bagus untuk mencapai ketentraman dengan mengingat Allah. Ketentraman seperti inihlah yang akan membawa kebahagiaan sejati.
ps:
Accepting this insight about emotion is a thing for me, but to apply it in my daily life, it's another thing. Hahaha.. semoga Allah tolong dan mudahkan selalu :)
31.1.12
A Falling Candy
26.9.11
mengejar Toga!
| Yeeey! |
8.5.11
I still need a reminder
![]() |
| Kiri-kanan : temen4 (icha), temen5 (esti), saya |
13.4.11
Bapak bikin saya mikir. (lagi)
Jadi kesimpulannya, apa film TandaTanya bagus?
Well, itu jelas relatif yah.
Tapi buat saya pelajaran dari film TandaTanya itu adalah bahwa manusia dipandang bukan dari agamanya atau sukunya, tapi perbuatannya. Sedangkan pesan toleransi yang ingin disampaikannya? Hmm..menurut saya ada cara jauh lebih cerdas untuk menyampaikan makna toleransi beragama dibandingkan apa yang sudah coba Film itu sampaikan.
Sort of like that lah..
27.3.11
Seperti tukang odong-odong untuk sang Hujan.
![]() |
| itu yg kepoto kaki saya (gak penting yah?) |
![]() | |
| berkas lumut depan pager rumah, keliatan kayak perempuan kan yah? |
13.3.11
Gempa, Tsunami, dan Hati yang Selalu Merendah
10.3.11
Negri-negri yang Dihancurkan Allah
Sebuah keniscayaan bahwa Allah yang Maha Menciptakan sekaligus menjadi Yang Maha Menghancurkan. Bila Allah berkehendak, maka menjadikan pulau-pulau di Indonesia hanya tinggal serpihan debu adalah hal yang sangat mudah. Allah hanya perlu “memerintahkan” seluruh gunung berapi di Indonesia untuk memuntahkan isi perut bumi, kemudian “memanggil” awan-awan hujan untuk membanjiri pelosok negeri hingga bahkan orang paling tinggi di Indonesia pun kesulitan menjejakkan kaki di tanah. Dan jika itu masih belum cukup untuk menghancurkan seluruh negri ini, Allah cukup tambahkan saja petir menyambar ke bumi yang terendam banjir, maka listrik statis jutaan volt akan dengan cepat membunuh sel-sel otak manusia.
Menyeramkan? Memang. Tidak ada yang mengatakan bahwa kehancuran itu suatu hal yang menyenangkan. Tapi perlu diingat bahwa Allah Maha Penyayang, sehingga tidak akan mungkin Dia meninggalkan hambaNya tanpa sebuah pedoman untuk dipelajari dan seorang Rasul sebagai panutan. Di dalam Al-Qur’an, Allah mengajarkan kita banyak hal mengenai negri-negri yang dihancurkan. Misalnya saja negri-negri kaum Nabi Huud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, dan Nabi Syu’aib.
Kaum Nabi Huud
(١٢٩) تَخۡلُدُونَ لَعَلَّكُمۡمَصَانِعَ وَتَتَّخِذُونَ (١٢٨) تَعۡبَثُونَ ءَايَةً۬رِيعٍ بِكُلِّ أَتَبۡنُونَ
Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, (128) dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? (129). (QS: Asy Syu’araa)
Kaum Aad hidup di daerah yang makmur dan subur. Allah mencurahkan banyak sekali nikmat bagi mereka. Hewan-hewan ternak berkembang biak, kebun-kebun selalu produktif, dan sumber-sumber mata air tak ada habis-habisnya. Sebuah gambaran negri dengan sumber daya alam yang luar biasa, itulah daerah yang ditinggali oleh Kaum Aad.
Tapi kemudian lahan-lahan subur serta kebun-kebun yang selalu produktif itu mereka hancurkan. Ide lain melintas di pikiran mereka, bahwa lahan-lahan itu bisa menjadi tempat mendirikan bangunan-bangunan tinggi. Tak hanya satu atau dua, Kaum Aad mengubah sebagian besar lahan-lahan subur mereka menjadi bangunan-bangunan tinggi tempat mereka menghabiskan waktu bersenang-senang seolah waktu tidak ada habisnya.
Maka Allah mengutus Nabi Huud untuk memberi mereka peringatan, mengajak untuk taat pada Allah dan nabiNya, namun mereka hanya berkata, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab” (QS: Asy-Syu’ara, 133-134). Namun itu menurut kaum Aad, sedangkan Allah berkehendak lain. Badai pasir menggulung habis kaum Aad bahkan hingga bangunan-bangunan tinggi yang mereka dirikan tidak terlihat lagi jejak-jejaknya.
(١٣٩)مُّؤۡمِنِينَ مأَكۡثَرُهُ كَانَ وَمَا ۖ لَأَيَةً۬ذَٲلِكَ ىفِ إِنَّ ۗ هۡلَكۡنَـٰهُمۡ فَأَ فَكَذَّبُوهُ
Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. (QS: Asy Syu’ara)
Kaum Nabi Shaleh
طَلۡعُهَا وَنَخۡلٍ۬ وَزُرُوعٍ۬ (١٤٧) وَعُيُونٍ۬ جَنَّـٰتٍ۬ فِى (١٤٦)ءَامِنِينَ هَـٰهُنَآ مَا فِى أَتُتۡرَكُونَ
(١٤٩) فَـٰرِهِينَ بُيُوتً۬ا ٱلۡجِبَالِ مِنَ وَتَنۡحِتُونَ (١٤٨) هَضِيمٌ۬
Adakah kamu akan dibiarkan tinggal di sini (di negeri kamu ini) dengan aman, (146) di dalam kebun-kebun serta mata air, (147) dan tanaman-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut (148) Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin (149) (QS: Asy Syu’ara)
Nabi Shaleh diutus di antara kaum Tsamud, kaum yang tersohor karena kepintaran dan teknologinya. Pengetahuan mereka mengenai pertanian dan perkebunan menjadikan kebun-kebun mereka tumbuh subur, pohon-pohon kurma berbuah secara rutin, dan mata air dimanfaatkan seefektif mungkin di zaman itu. Bahkan dengan teknologinya, kaum Tsamud memahat gunung-gunung, menjadikannya rumah-rumah rekreasi dan peristirahatan bagi mereka.
Lalu Allah kemudian mengutus seorang nabi bernama Shaleh, yang datang bukan dari bagian para ilmuwan ahli teknologi, atau pun insinyur ahli pertanian kaum Tsamud. Maka jadilah Nabi Shaleh beserta risalahnya dipandang sebelah mata oleh kaum Tsamud, mereka menolak ajakan untuk taat pada Allah serta Nabi Shaleh. Bagaimana mungkin ahli teknologi dan insinyur pertanian yang jauh lebih pintar dari Nabi Shaleh akan mendengarkan ajakan seperti itu? Kepintaran dan keahliannya menciptakan teknologi-teknologi baru menulikan kaum Tsamud dari dakwah Nabi Shaleh sehingga Allah menguji mereka dengan seekor unta betina.
Semakin menjadi-jadi mengacuhkan peringatan Nabi Shaleh, kaum Tsamud justru membunuh unta betina itu. Maka turunlah azab Allah berturut-turut yang menghabisi kaum Tsamud.
ۗ فِيہَآ غۡنَوۡاْ لَّمۡكَأَن (٦٧) جَـٰثِمِينَ دِيَـٰرِهِمۡ فِى فَأَصۡبَحُواْ ٱلصَّيۡحَةُاْظَلَمُو ٱلَّذِينَ وَأَخَذَ
(٦٨) لِّثَمُودَ بُعۡدً۬ا أَلَا رَبَّہُمۡڪَفَرُواْ ثَمُودَاْ إِنَّ أَلَآ
Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya (67) seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlan bagi kaum Tsamud. (68) (QS: Huud)
Kaum Nabi Luth
(٨٠) ٱلۡعَـٰلَمِينَ مِّنَ أَحَدٍ۬ مِنۡبِہَا سَبَقَكُم مَا ٱلۡفَـٰحِشَةَ أَتَأۡتُونَ لِقَوۡمِهِۦۤ قَالَ إِذۡ وَلُوطًا
(٨١) مُّسۡرِفُونَ قَوۡمٌ۬أَنتُمۡبَلۡ ۚ ءِٱلنِّسَآدُونِ مِّن شَہۡوَةً۬ ٱلرِّجَالَ لَتَأۡتُونَ إِنَّڪُمۡ
Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya : “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? (80) Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS: A; A’raaf: 80-81)
Tidak seperti kaum Tsamud atau pun kaum Aad yang berkaitan dengan alam lingkungan hidupnya, kaum Sodom dimana diutusnya Nabi Luth justru mendustakan tatanan rumah tangga yang sudah Allah atur. Sebagian besar kaum Sodom menerapkan gaya hidup Homoseksual. Mereka meninggalkan wanita-wanita yang Allah telah ciptakan sebagai pasangan hidup para lelaki, dan justru memilih untuk berhubungan dengan sesama lelaki.
Ketika Nabi Luth memperingatkan mereka dan mengingatkan bagaimana seharusnya tatanan rumah tangga yang diatur oleh Allah, kaum Sodom justru mengusir Nabi Luth dan menganggapnya serta pengikut-pengikutnya sebagai orang yang sok suci karena tidak mengikuti gaya hidup homoseksual mereka. Maka ketika datang azab Allah, mereka tidak bisa lagi berkata-kata. Kaum Sodom habis dihujani batu-batu dari tanah yang terbakar.
(٨٢)مَّنضُودٍ۬سِجِّيلٍ۬ مِّن حِجَارَةً۬عَلَيۡهَا وَأَمۡطَرۡنَا سَافِلَهَا عَـٰلِيَهَا جَعَلۡنَا أَمۡرُنَا جَآءَ فَلَمَّا
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi. (82) (QS: Huud)
Kaum Nabi Syuaib
فِى تَعۡثَوۡاْ وَلَا أَشۡيَآءَهُمۡٱلنَّاسَ تَبۡخَسُواْ وَلَا بِٱلۡقِسۡطِۖ وَٱلۡمِيزَانَ ٱلۡمِڪۡيَالَ وۡفُواْأَ وَيَـٰقَوۡمِ
(٨٥)مُفۡسِدِينَ ٱلۡأَرۡضِ
Dan Syuaib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (85) (QS: Huud)
Nabi Syuaib diutus pada kaum Madyan. Kaum ini tidak mengeksploitasi hasil bumi, tidak juga menganggap kepintaran mereka segala-galanya, atau pun merusak tatanan rumah tangga. Kaum Madya justru merusak tatanan perekonomian dalam masyarakat. Mereka mencurangi timbangan, membuat rugi manusia lainnya, dan merampas sebagian hak-hak manusia lainnya dalam perekonomian. Sebagian besar kaum Madya gemar mengumpulkan harta, maka apabila berdagang mereka mencurangi timbangan agar mendapatkan keuntungan yang lebih lagi sehingga hartanya pun semakin banyak.
Nabi Syuaib kemudian datang sebagai pemberi peringatan, mengingatkan bahwa sesungguhnya keuntungan di sisi Allah jauh lebih baik dari keuntungan yang didapat dari hasil mencurangi timbangan. Nabi Syuaib mengajak mereka untuk taat pada Allah dan padanya. Namun kaum Madya yang terlanjur buta oleh harta justru mendustakan apa yang disampaikan Nabi Syuaib. Menurut mereka ini adalah harta mereka, jadi apa yang mereka lakukan pada harta tersebut adalah haknya.
Nabi Syuaib bahkan telah mengingatkan mereka tentang apa yang terjadi atas orang-orang sebelum mereka yang Allah hancurkan negrinya tanpa sisa karena mendustakan apa yang disampaikan oleh Nabi dan RasulNya. Tapi kaum Madyan tidak peduli pada apa yang disampaikan Nabi Syuaib, maka ketika datang awan-awan gelap dan mereka pikir musim penghujan telah tiba, justru azab Allah-lah yang datang. Suara yang mengguntur mengiringi angin kencang luar biasa yang menghabisi kaum Madyan.
ظَلَمُواْ ٱلَّذِينَ وَأَخَذَتِ مِّنَّا ۥ بِرَحۡمَةٍ۬ مَعَهُ ءَامَنُواْ وَٱلَّذِينَ شُعَيۡبً۬ا نَجَّيۡنَا أَمۡرُنَا جَآءَ وَلَمَّا
(٩٤) جَـٰثِمِينَ فِى دِيَـٰرِهِمۡفَأَصۡبَحُواْ ٱلصَّيۡحَةُ
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. (94) (QS: Huud)
Demikian sedikit kajian singkat dari pelajaran yang Allah sampaikan pada kita mengenai negri-negri yang Allah hancurkan karena mendustakan ayat-ayatNya. Maka sekarang saatnya bercermin mengenai negri kita sendiri, Indonesia.
Adakah yang seperti kaum Aad? Yang berlebihan menghancurkan lahan-lahan produktif yang memegang peranan penting bagi kesejahteraan masyarakat untuk kemudian mengubahnya menjadi aset-aset yang hanya menguntungkan perutnya sendiri. Mengubahnya menjadi bangunan-bangunan tinggi yang digunakan untuk bersenang-senang hingga lupa diri, lupa waktu, dan lupa Allah.
Data terbaru dari Kemenhut menunjukkan bahwa walaupun berkurang, laju kehilangan hutan masih mencapai 0,8 juta hektare per tahunnya, dari tahun 2006 ke 2008. Sedangkan hutan yang rusak terhitung seluas 59,7 juta hektare sampai tahun 2002. (Fitrian Ardiansyah – ANTARA). Hutan-hutan ini dirusak tanpa memperhatikan bagaimana menjaga keseimbangan alam, lalu kemudian juga hasil dari penjualan kayu-kayu dan hasil hutan ini hanya dinikmati sebagian pihak, itu pun masih rentan dihadang korupsi karena kepastian hukum yang juga kurang mendukung.
Adakah yang seperti kaum Tsamud? Yang begitu membanggakan kecerdasannya, begitu menuhankan pemikirannya, sampai-sampai rasanya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh otaknya sendiri tanpa mengharap bantuan Allah. Kecerdasan, kepintaran, teknologi menjadikan kesombongan memenuhi telinga mereka sehingga tidak ada lagi tempat masuk bagi nasihat-nasihat kebaikan.
Nyatanya orang-orang yang menyombongkan diri hanya karena memiliki level pendidikan yang tinggi atau menguasai suatu teknologi tertentu ada saja yang merasa tidak perlu menerima nasihat-nasihat kebaikan, merasa cukup mengandalkan diri dan otaknya. Lupa pada siapa yang menciptakan diri dan otak untuk berpikir tersebut. Padahal mestinya mereka menengok pada Prof. Dr. BJ Habibie yang tetap rendah hati dan berpikiran terbuka meski teknologi pesawat terbang telah dia kuasai.
Lalu adakah yang seperti kaum Sodom? Yang menyimpang dari fitrah Allah menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan satu sama lain, kemudian mereka lebih memilih menuruti hawa nafsunya sendiri dan dengan bangga mengusung bendera Homoseksual dan Lesbian.
Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. Dari jumlah ini, sebagian dalam jumlah bermakna terus melakukannya. (Kompas Cyber Media, 2003) Hasil survei YPKN menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar. Dede memperkirakan, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia. Dr. Dede Oetomo, adalah "presiden" gay Indonesia, yang telah 18 tahun mengarungi hidup bersama dengan pasangan homonya, beliau juga seorang "pentolan" Yayasan Gaya Nusantara. (Gatra, 2003)
Dan terakhir, adakah yang seperti kaum Madyan? Yang mengurangi timbangan, yang mengambil sebagian hak-hak orang lain untuk memperkaya dirinya sendiri. Dalam bahasa kekinian, hal-hal seperti ini disebut tindakan korupsi. Dan prestasi korupsi Indonesia sudah tidak perlu lagi dipertanyakan. Bukan saja dalam bidang perdagangan, tapi semua bidang di Indonesia mungkin telah tersentuh tindak korupsi. Mulai dari pendidikan sampai ke hukum. Dari perpajakan sampai ongkos naik haji.
Angka tingkat korupsi Indonesia semakin meningkat ditahun 2009 dibanding tahun 2008. Pada tahun 2009, Indonesia ‘berhasil’ menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara surveilances dari PERC 2009. Indonesia mendapat nilai korupsi 8.32 disusul Thailand (7.63), Kamboja (7,25), India (7,21) and Vietnam (7,11), Filipina (7,0). Sementara Singapura (1,07) , Hongkong (1,89), dan Australia (2,4) menempati tiga besar negara terbersih, meskipun ada dugaan kecurangan sektor privat. Sementara Amerika Serikat menempati urutan keempat dengan skor 2,89. Jadi, dari data PERC 2010, maka dalam kurun 2008-2010, peringkat korupsi Indonesia meningkat dari 7.98 (2008.), 8.32 (2009) dan naik menjadi 9.07 (2010) dibanding dengan 16 negara Asia Pasifik lainnya. “Prestasi” dashyat ini bukanlah hal yang mengejutkan, karena bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi M Mahfud MD dalam diskusi ‘Akar-akar Mafia Peradilan di Indonesia (18 Feb 2010) mengatakan bahwa , “Hampir semua pejabat itu korupsi,”. (NusantaraNews)
Pertanyaannya sekarang adalah, Mengapa hal-hal yang sejalan dengan yang dialami kaum-kaum terdahulu itu masih terjadi di Indonesia, di negara yang notabene dihuni mayoritas kaum Muslim? Padahal kaum Muslim ini pun melaksanakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar zakat, bahkan jamaah Haji asal Indonesia melimpah ruah setiap kali musim Haji.
Sewajarnya diperhatikan juga dari kisah-kisah yang Allah sampaikan di Al Qur’an, mengenai negri-negri yang Allah hancurkan tanpa jejak. Allah tidak pernah mengatakan menurunkan azab pada kaum-kaum terdahulu itu karena mereka tidak melaksanakan sholat, atau karena tidak berpuasa, apalagi membayar zakat. Allah berfirman, “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS: Huud : 102)
Karena sesungguhnya bukan berapa banyak sholat yang kita laksanakan, tapi justru seberapa banyak sholat mempengaruhi hidup kita. Sejatinya sholat adalah pendidikan yang sifatnya kontinyu, yang mendidik kita untuk tidak mendustakan ayat-ayat Allah, tidak zalim pada lingkungan, sesama manusia, maupun kepada diri sendiri.
Sudah kita lihat sendiri bagaimana komparasi kondisi negri ini dibandingkan negri-negri yang pernah Allah hancurkan dahulu kala, lalu apa yang bisa kita lakukan? Berteriak-teriak di depan gedung DPR rasanya tidak membantu banyak. Meminjam istilah Bapak AM Fatwa, setidaknya kita bisa menjadi moral force bagi lingkungan kita. Dimulai dari memperbaiki kualitas sholat kita, kualitas pendidikan kontinyu kita itu, sehingga berakibat pada kualitas hidup yang lebih baik juga. Yang kemudian akan menular pada lingkungan kita dan seterusnya. Seperti efek domino yang akan menunjukkan pola-pola indah dari hanya satu sentuhan kecil.
Belajar dari kaum Tsamud yang menuhankan pemikirannya, maka tidak lupa kita senantiasa memohon pertolongan pada Allah, karena secerdas dan sekeras apa pun cara kita membuat perubahan, tetap Allah yang akan menolong kita. Dengan begini lambat laun tidak akan lagi ada refleksi-refleksi kaum Aad, Tsamud, Sodom, dan Madyan di wajah Indonesia kita. Insya Allah.



